Berita Gunungkidul

Bupati Gunungkidul Nilai Kemandirian Pangan jadi Solusi Atasi Mahalnya Harga Pakan Ternak

Bupati Gunungkidul menilai kemandirian pangan bisa menjadi solusi untuk mengatasi mahalnya pakan yang banyak dikeluhkan oleh peternak

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Bupati Gunungkidul Sunaryanta (kiri) dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Rismiyadi (kanan). 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Meski fluktuatif, harga telur ayam menunjukkan tren peningkatan selama beberapa waktu terakhir.

Selain karena tingginya permintaan, mahalnya biaya operasional salah satunya dari pakan ternak juga menjadi penyebabnya.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan ada berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai solusi untuk menekan tingginya harga telur ayam ini.

Salah satunya menjaga persediaan pakan ternak.

"Harus diupayakan bagaimana caranya agar kemandirian pangan, termasuk untuk pakan ternak bisa tercapai," katanya pada Jumat (02/09/2022).

Sunaryanta mengaku sudah berbicara dengan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul perihal masalah ini.

Antara lain untuk mengoptimalkan budidaya komoditas pangan.

Menurutnya, optimalisasi dari sektor pertanian akan berdampak pada sektor lain seperti peternakan.

Baca juga: Harga Telur Ayam Ras di Tingkat Peternak hingga Eceran Gunungkidul Turun

Sebab hasil pertanian juga dibutuhkan untuk keberlanjutan usaha para peternak, seperti ayam pedaging hingga ayam petelur.

"Kalau pakan ternak ini bisa terjangkau, maka peternak tidak perlu lagi menjadi resah," ujar Sunaryanta.

Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi menyebut jagung menjadi salah satu komoditas pangan unggulan. Hasil panennya pun diklaim bisa memenuhi kebutuhan.

Meski demikian, upaya pengembangan tetap perlu dilakukan demi mewujudkan ketahanan pangan tersebut.

Mulai dengan menanam jagung varietas unggulan hingga menambah luas lahan yang ditanami.

"Kalau luas lahannya bertambah, otomatis produksinya juga ikut naik," kata Rismiyadi.

Sementara Ketua Paguyuban Ayam Petelur Gunungkidul, Subandi sebelumnya menilai tingginya harga pakan membuat produksi telur ayam belum sepenuhnya pulih dari pandemi.

Bahkan saat pandemi sedang parah, banyak peternak yang harus mengurangi produksi hingga gulung tikar.

Ia pun berharap ada kebijakan yang tepat agar biaya operasional yang dikeluarkan sebanding dengan harga jual telur ayam.

Meski demikian, ia mengakui tingginya harga ayam sempat menguntungkan bagi peternak seperti dirinya.

"Tapi tentunya jangan sampai terlalu tinggi juga agar tidak membebani masyarakat, setidaknya bisa seimbang," jelas Subandi.(Tribunjogja)
 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved