Wawancara Eksklusif

Guntur Soekarnoputra: Saya Berpolitik dengan Berbagai Cara yang Bisa Saya Lakukan

Berikut wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network Tribun Network Febby Mahendra Putra dengan Guntur Soekarnoputra

ist
Guntur Soekarnoputra (kanan) dan Direktur Pemberitaan Tribun Network Tribun Network Febby Mahendra Putra 

PUTRA pertama Presiden Soekarno, Guntur Soekarnoputra bertandang ke kantor Tribun Network, Selasa (30/8/2022).

Sosok yang akrab disapa Mas To ini berbagi cerita tentang masa kecilnya yang sudah tertarik dunia politik. Setiap kali ada kesempatan dengan ayahanda, selalu ada diskusi di sana.

Dia juga menceritakan tentang perjalanan politik, cara berpolitik dan menyikapi kondisi terkini.

Berikut wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network Tribun Network Febby Mahendra Putra dengan Guntur Soekarnoputra.

Bisa diceritakan aktivitas Mas To di tahun 60-70an yang juga seorang ideologis memahami betul pesan-pesan kebangsaan ajaran dari Bung Karno?

Mengenai politik saya sejak SMP sudah belajar karena sering dialog dengan Bapak (Bung Karno) terutama ketika sedang makan buah sambil nanya-nanya. Biasanya Bapak selalu kasih jawaban lugas.

Sejak itu saya sudah tertarik masuk ke politik. Tapi saya betul-betul aktif waktu masuk SMA kemudian masuk Institut Teknologi Bandung Jurusan Teknik Mesin. Di situ saya tahun 1963 mulai aktif di organisasi mahasiswa dari PNI yaitu GMNI.

Saya mulai jadi anggota biasa, naik jadi kader dan kemudian sempat menjadi Wakil Ketua GMNI Sekretariat ITB. Kemudian di dewan pimpinan cabang menjadi ketua tim indoktrinasi dasar dan selanjutnya.

Sampai pada periode Pemilu 1971 era Orde Baru saya dijadikan juru kampanye nasional ke mana-manalah, ke daerah segala macam.

Mengapa Mas To tidak setuju gabung dengan Partai Nasional Indonesia?

Saya waktu itu malah diskusi dulu sama Pak Isnaini sebagai Ketua DPP PNI, saya bilang kalau PNI ikut fusi partai mbok sampai kapan pun di dalamnya akan terjadi faksi.

Jadi DPP akan repot ngurusi internal partai tapi ngurusi juga eksternal. Sehingga kalau saya ditanya nggak gabung partai, tolak saja Pak ide fusi itu.

DPP bilang ke saya kalau kita tolak salah-salah nanti PNI dibubarkan. Ya, saya bilang bubarkan saja, kan Pak Is tahu di Pemilu 1971 riil mendapatkan massa hampir 3 juta manusia.

Kalau kita dibubarkan toh diajarkan Bung Karno ada diajari mengenai gerilya politik.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved