Berita Kota Magelang Hari Ini

Pemkot Magelang Bentuk TPPS untuk Tekan Angka Stunting di Wilayahnya

Penurunan stunting perlu penyamaan persepsi dan penyatuan langkah seluruh pemangku kepentingan.

Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting
Tangkapan layar pelaksanaan rembuk stunting di Pendopo Kota Magelang, Selasa (30/08/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja,Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Dalam upaya menekan kasus stunting pada anak secara efektif dan terintegrasi di wilayah Kota Magelang, Pemerintah mengukuhkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat Kota Magelang tahun 2022. 

Kepala DPMP4KB, Khudoifah, mengatakan dikukuhkannya tim TPPS dalam rangka penurunan angka stunting di Kota Magelang.

Penurunan stunting perlu penyamaan persepsi dan penyatuan langkah seluruh pemangku kepentingan.

"Walaupun angka stunting di wilayah ini sudah masuk 5 terbaik di Jateng, pada kisaran 13 persen, namun perlu penyamaan persepsi dan penyatuan langkah secara bersama antara OPD penanggung jawab, lembaga non pemerintah dan masyarakat. Sehingga perlu konfirmasi, sinkronisasi dan sinergitas dalam penurunan stunting," papar Khudoifa, pada Rabu (31/08/2022).

Ia menambahkan, adanya tim TPPS juga  bertujuan untuk menyampaikan hasil analis dan rancangan renana kegiatan intervensi penurunan stunting di Kota Magelang terintegrasi.

Serta membangun komitmen Pemda dan kesepakatan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting dan komitmen publik dalam penurunan stunting secara terintegrasi.

Untui diketahui, susunan keanggotaan TPPS terbagi tiga yaitu Tim Pengarah yang diketuai Walikota Magelang, Tim Pelaksana diketuai oleh Wakil Wali Kota Magelang, dan Tim Sekretariat diketuai Sekretaris Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMP4KB).

Wali Kota Magelang, dr Muchamad Nur Aziz, menambahkan pengukuhan TPPS Kota Magelang tidak sekadar formalitas, namun perlu semangat agar bekerja efektif. 

"Maka segera TPPS membuat program kerja, meliputi pra, pelaksanaan dan setelahnya. Pra itu dilihat angkanya berapa, kemudian bagaimana menurunkannya. Kalau sudah kejadian (ada kasus stunting) diobati, kalau belum maka bagaimana dicegah dengan memperhatikan asupan gizi sejak hamil," terangnya. 

Selain itu, program kerja juga semestinya terintegrasi dengan program lain, contohnya dengan program Rodanya Mas Bagia. 

Dikatakan, hampir Rp30 miliar anggaran Pemkot Magelang digelontorkan untuk Rodanya Mas Bagia sehingga diharapkan program ini lebih punya manfaat. 

"Kota Magelang itu kota kecil tapi ternyata masih ada stunting, kita yang kurang sigap, kemiskinan perlu dihitung agar pemerintah juga bisa segera bertindak. Kemudian pemetaan harus lebih awal. Tim teknis harus turun ke lapangan," tandasnya. (*)


 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved