Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Melihat Pengolahan Pupuk Kompos dari Limbah Organik di Yogyakarta

Proses pembuatan kompos dilakukan secara manual, selama proses penyiraman daun harus extra sabar. 

TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
Nanang Hartoyo, selaku pembuat kompos dari Depo Denggung yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, sedang membuat kompos di tempat produksinya tepat di Depo Sampah Denggung, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (30/8/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sampah dari limbah organik sering dimanfaatkan sebagai penyubur tanaman.

Namun, tidak semua limbah organik dapat diolah menjadi pupuk atau kompos dengan cepat.

Nanang Hartoyo, selaku pembuat kompos dari Depo Denggung yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman mengatakan, guna memaksimalkan hasil kompos dari limbah organik, setidaknya harus dilakukan pemilihan daun dengan benar.

"Sebenarnya daun yang ukurannya kecil itu bisa lebih cepat di buat kompos. Apalagi daun mahoni, itu bisa cepat hancurnya. Tapi, kalau daun ketepeng nggak bisa cepat hancur," ucapnya kepada Tribunjogja.com , di tempat produknya tepat di Depo Sampah Denggung, Kabupaten Sleman , Daerah Istimewa Yogyakrta, Selasa (30/8/2022).

Baca juga: Mahasiswa UNY Ini Kelola Limbah Tongkol Jagung yang Disulap Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

Maka dari itu, sebelum proses pembuatan kompos berlangsung, dia harus menyortir daun kering di tempat produksinya.

Nantinya, daun-daun yang bisa diolah menjadi kompos dengan cepat harus melalui tahap penyiraman menggunakan air yang banyak.

Dikarenakan proses pembuatan kompos dilakukan secara manual, Nanang pun mengatakan, selama proses penyiraman daun harus extra sabar. 

Selanjutnya, daun itu dibungkus menggunakan plastik bening guna peroses penguraian daun tersebut dapat berjalan dengan maksimal.

Tepat dalam 15 hari ke depan, Nanang kembali menyiram daun tersebut dan ditutup lagi menggunakan plastik yang sebelumnya telah digunakan.

Kemudian, daun itu didiamkan di dalam plastik selama empat bulan.

"Tapi, dalam tengat waktu itu belum tentu maksimal terurai. Makanya, nanti daun itu di taruh ke tempat terbuka dan didiamkan kembali selama dua sampai empat bulan. Baru, nanti bisa dipergunakan untuk menyuburkan tumbuhan," ujarnya.

Baca juga: Warga di Sekitar TPA Piyungan Tagih Janji Pengolahan Limbah Air Lindi, Ini Respons Pemda DIY 

Lebih lanjut, ia menerangkan, apabila saat bercocok tanam ingin menggunakan kompos, sebaiknya dikombinasikan dengan tanah.

"Jadi, setengah pot isinya tanah dan setengahnya lagi isinya kompos. Kalau mau menggunakan kompos semua, tanaman belum tentu bisa hidup. Karena kompos itu bisa membuat suhu tanaman menjadi panas," tambahnya.

Tidak hanya itu saja, jika ingin memiliki hasil bercocok tanam dengan maksimal, Nanang menyarankan, kompos tersebut bisa dikombinasikan bersama pecahan kulit telur atau kotoran sapi maupun kambing.

"Nanti tahapannya, 40 persen tanah di tambah 40 persen kompos dan 10 persennya kulit telur atau kotoran hewan," ujarnya.

Dalam sekali produksi dengan kurun waktu delapan bulan, ia bisa menghasilkan 300 kilogram kompos.

Hasilnya pun akan diberikan kepada pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman untuk diberikan ke tanaman yang ada di Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Sleman .( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved