Wawancara Eksklusif

Komnas HAM : Ruang di TKP Sudah Rusak

Berikut hasil wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra dengan M. Choirul Anam

ist
Komisioner Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM RI M Choirul Anam 

TRIBUNJOGJA.COM - Komisioner Komnas HAM, Muhammad Choirul Anam mengungkap temuan-temuan dalam menguak kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Polisi Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Seperti saat datang ke TKP penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Setelah memeriksa banyak pihak, Komnas HAM kemudian datang ke TKP.

Berikut hasil wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra dengan M. Choirul Anam.

Setelah bertemu banyak pihak, Irjen Ferdy Sambo, Bharada E dan lainnya, kemudian Komnas HAM menginjak ke TKP. Apa yang ditemukan di TKP?

Sebelum kami datang ke TKP, kami merapikan semua informasi yakni seperti foto-foto yang kami dapat, sudut luka, karakter luka dalam tubuh Brigadir J, termasuk komunikasi jejak digital. Semua kami bawa ke TKP.

Lalu apa yang ditemukan saat itu?

Salah satu yang penting saat datang ke TKP, siak ijaminasi kami soal ruang TKP. Bayangannya luas begitu ya. Ternyata ruang lebih sempit dari apa yang kita bayangkan. Karena banyak barang di situ.

Apa makna dari temuan itu?

Artinya, di sini penyidik (Polri) harus teliti betul bagaimana rancang bangun menyusun dokumen hukum yang akan dibawa ke pengadilan.

Tentu saja ini bisa menyusahkan. Karena memang di TKP-nya banyak yang rusak. Itu yang menyusahkan. Penyidik untuk lebih hati-hati menyusun rancang bangun pertistiwa khususnya di Duren Tiga, karena mereka masuk dalam ruang yang sudah berantakan.

Apakah memang di TKP itu sebelumnya ada CCTV?

Ada tiga isu tentang CCTV yang beredar di publik. Pertama adalah CCTV perjalanan Magelang-Jakarta. Kedua CCTV yang sejak awal hilang (rusak), yang ada di sekuriti kompleks rumah TKP. Itu yang diambil, yang dulu diributin itu. Ketiga CCTV di dalam rumah.

Bagaimana dengan CCTV yang ketiga?

Yang ketiga? Enggak ada (isinya). CCTV yang di dalam sudah rusak sejak sebelum perististiwa. Tapi ini belum diverifikasi. Waktu kami datang CCTV itu ya terpasang. Di depan rumah TKP ada CCTV tapi tidak berfungsi. Semua CCTV yang menempel rumah TKP tidak ada yang berfungsi. Decodernya rusak.

CCTV yang disekuriti ada upaya dirusak. Kalau di dalam rumah memang rusak sebelumnya, walaupun kami belum terkonfirmasi. Kalau (CCTV di dalam rumah itu berfungsi) ada, kasus ini sudah beres.

Selain kurangnya alat bukti pendukung, apa yang menghambat pekerjaan Komnas HAM?

Hiruk pikuk, opini kemana-mana. Ini paling banyak, isu penyiksaan, walaupun autopsi kedua (tidak ada penyiksaan), ayolah ini dihormati. (Tribun Network)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved