Berita Jogja Hari Ini

Sri Sultan HB X Ungkap Fakta Sejarah Bangunan Ndalem Gamelan yang Kini Jadi Graha Keris

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan Grha Keris dan Omah Wayang pada Senin (22/8/2022).

TRIBUNJOGJA.COM/ Yuwantoro Winduajie
Sri Sultan Hamengku Buwono X setelah meresmikan Omah Keris 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan Grha Keris dan Omah Wayang pada Senin (22/8/2022).

Grha Keris sendiri berlokasi di Ndalem Gamelan, Jalan Gamelan Kidul nomor 1, sedangkan Omah Wayang beralamat di Jalan Langenastran Kidul nomor 5, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.

Dua bangunan itu difungsikan sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan keris dan wayang yang ada di Yogyakarta. 

Baca juga: Pemkot Yogya Siapkan Proteksi Dini untuk Antisipasi Cacar Monyet yang Kini Sudah Masuk Indonesia

Juga menjadi pusat kegiatan persemaian budaya khususnya keris dan wayang secara lebih luas yang nantinya akan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Sri Sultan HB X menjelaskan, Graha Keris dan Omah Wayang sengaja didirikan di lokasi yang memiliki nilai sejarah. Misalnya saja Graha Keris yang mengambil tempat di Ndalem Gamelan.

Menurut Sri Sultan HB X, bangunan Ndalem Gamelan biasa dimanfaatkan almarhum ayahnya yakni Sri Sultan HB IX untuk menggelar pertemuan dengan para gerilyawan di zaman penjajahan Belanda.

Di dalamnya juga terdapat kursi yang kerap digunakan Sri Sultan HB IX saat menyusun strategi dengan pejuang kemerdekaan. 

Kursi tersebut juga turut dipamerkan di dalam Ndalem Keraton yang kini juga difungsikan sebagai Graha Keris.

"Di situ ada pintu hijau, ini dulu pada waktu Belanda clash itu di sini (Ndalem Keraton) namanya warung sate, pertemuan almarhum ke-IX sama gerilyawan di sini, di bangunan ini," terang Sri Sultan HB X seusai meresmikan Graha Wayang.

Karena memiliki nilai historis yang sangat vital, Raja Keraton Yogyakarta ini pun memutuskan untuk menempatkan Graha Keris di bangunan Ndalem Keraton.

Dengan demikian, semangat mempertahankan nilai historis bangunan tersebut harapannya juga dapat merambah pada semangat pelestarian budaya lokal Yogyakarta khususnya wayang dan keris.

"Harapan kita, keris peninggalan leluhur kita, berada di tempat yang ada nilai historis, dengan karakter kebangsaan dan karakter budaya, warisan budaya," tandas Sri Sultan HB X.

Baca juga: Liga Italia: Sejarah Pertemuan AS Roma vs Cremonese di Serie A

Sementara Ketua Umum Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri) Wiji, KRT Puspodiningrat berharap keris yang sudah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat pasca didirikannya Omah Keris.

"Sehingga masyarakat bisa mengenal warisan nenek moyang kita dengan baik dan benar. Yang benar dan proporsional artinya tidak sebagai benda yang mistis atau syirik tapi sebagai benda warisan budaya," tandasnya.

Dalam pembukaan Omah Keris, pihaknya juga turut menyelenggarakan pameran dengan menampilkan puluhan koleksi keris dari zaman Sultan HB I hingga VIII.

"Masing-masing era punya ciri khas sendiri. Misalnya HB I itu adalah bentuknya seperti era Pajajaran dan Mataram, jadi gabungan antara dua era itu," ujarnya. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved