Pandemi Covid-19, Perang Rusia dan Ukraina, Ketegangan China dan Taiwan dan Keresahan Dunia

Pandemi Covid-19 saat ini memang telah menunjukkan angka penurunan kasus meski belum dinyatakan selesai.

Editor: ribut raharjo
KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIA
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 saat ini memang telah menunjukkan angka penurunan kasus meski belum dinyatakan selesai.

Kini, muncul baru lagi masalah yang imbasnya bisa menyerang perekonomian negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Risiko perekonomian sudah mulai bergeser dari pandemi Covid-19 ke arah ekonomi global akibat adanya invasi Rusia ke Ukraina dan tegangnya situasi di kawasan Taiwan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan invasi Rusia dan ketegangan China-Taiwan tersebut bisa merembet kepada disrupsi sisi supply.

Ia pun memberikan contoh saat pandemi covid-19 sedang menggila, situasi kala itu sangat tidak baik-baik saja. Terjadi disrupsi sisi supply, distribusi produk dan barang tidak berjalan lancar.

Akibatnya saat pandemi Covid-19 melandai, mobilitas masyarakat mulai tinggi, sisi permintaan melonjak tapi tidak bisa dipenuhi oleh produsen.

"Karena sesudah 2 tahun terkena pandemi ternyata normalisasi produksi tidak begitu saja mudah terjadi. Dengan adanya disrupsi sisi suplai akibat pandemi dan dengan sekarang masalah perang, sementara demand side meningkat, terjadilah inflasi global yang melonjak sangat tinggi," kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN Kita, Kamis (11/8/2022).

Kata Menkeu, adanya inflasi yang melonjak sangat tinggi, berbagai negara melakukan respons kebijakan moneter melalui pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga. Tindakan ini menimbulkan efek rembetan ke berbagai negara, sehingga volatilitas pasar keuangan melonjak.

Karena itu kini ia tengah mewaspadai pergerakan inflasi nasional. Terutama yang didorong oleh harga pangan. Sri Mulyani menegaskan, Indonesia perlu mewaspadai inflasi yang didorong harga pangan. Sebab, angkanya sudah kisaran 11,5 persen.

"Inflasi ini terutama yang didorong harga pangan karena sudah mencapai 11,5 persen," ujar Sri Mulyani.

Kemudian yang kedua, menurut Sri Mulyani adalah inflasi yang berasal dari harga yang diatur pemerintah namun tidak semuanya bisa ditahan.

"Meskipun harga BBM Pertalite dan juga harga dari Solar, Elpiji, listrik, semuanya masih ditahan, namun kita lihat beberapa harga energi dan transportasi seperti tiket pesawat mengalami kenaikan," tutur Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengimbau agar mewaspadai kedua faktor tersebut, yakni inflasi yang didorong harga pangan dan harga energi."Karena memang gejolak global adalah berasal dari food dan di Indonesia juga terkena 11,5 persen dan kemudian berasal dari energi yang kemudian diterjemahkan dalam beberapa barang yang diatur oleh pemerintah namun tidak semuanya bisa kita tahan," kata Sri Mulyani.

Saat ini, Indonesia telah menaikan subsidi di sektor energi sebesar Rp 502 triliun. Namun, apabila tidak ditahan harga energi akan jauh lebih tinggi dari 6,5 persen.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved