Berita Bantul Hari Ini

BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah di Bantul Bakal Alami Hari Tanpa Hujan Lebih Lama, Ini Daftarnya

Ada tiga kapanewon yang mengalami hari tanpa hujan lebih lama atau mencapai dua bulan, yakni Kapanewon Banguntapan, Sewon, dan Imogiri.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNjogja.com | Bramsto Adhy
ILUSTRASI cuaca panas 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY memprakirakan sejumlah Kapanewon di Kabupaten Bantul akan mengalami hari tanpa hujan.

Dari pantauan BMKG, ada tiga kapanewon yang mengalami hari tanpa hujan lebih lama atau mencapai dua bulan, yakni Kapanewon Banguntapan, Sewon, dan Imogiri.

Manajer Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, mengatakan berdasarkan pantauan BMKG, kapanewon yang dilanda hari tanpa hujan selama 21-30 hari sebanyak enam kapanewon, yakni Kapanewon Pandak, Pajangan, Bantul, Bambanglipuro, Kasihan, dan Dlingo.

Sementara tujuh kapanewon yang dilanda hari tanpa hujan antara 11-20 hari, yakni Sedayu, Pleret, Piyungan, Srandakan, Pundong, Sanden, dan Kretek.

"Berdasarkan pantauan BMKG, hari tanpa hujan kategori sangat panjang bertambah menjadi tiga kapanewon, yakni Banguntapan, Sewon, dan Imogiri," ungkapnya, Senin (8/8/2022).

Meski ada potensi kekeringan karena tidak ada hujan, namun dirinya menyatakan bahwa sampai sejauh ini belum ada masyarakat yang mengajukan bantuan distribusi air bersih.

Pihaknya pun tengah menyiapkan untuk penerbitan Surat Keputusan (SK) siap siaga darurat kekeringan. Namun hal itu juga masih menunggu informasi lebih lanjut dari BMKG.

"Tapi sampai saat ini belum ada yang mengajukan droping air ke BPBD," terangnya.  

Sebelumnya, Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi DIY, Etik Setyaningrum, menjelaskan dari hasil pengamatan dan prakiraan iklim di Wilayah DIY, pada awal Agustus ini secara umum sudah memasuki musim kemarau

Hal ini ditandai dengan adanya pergerakan monsoon Australia (angin timuran) di wilayah DIY.

"Diperkirakan puncak musim kemarau 2022 di wilayah DIY umumnya terjadi pada bulan Agustus 2022,” kata Etik.  

Dirinya juga menjelaskan, angin timuran atau monsoon australia berkarakteristik membawa massa udara dingin dan kering.

Kemudian tutupan awan relatif sedikit dan kelembaban udara juga rendah atau kandungan uap air diudara juga rendah.

Kondisi ini menyebabkan suhu juga rendah yang dirasakan cukup dingin dalam beberapa hari terakhir ini.(*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved