Pelajar SMP Tewas

Fakta Baru Kasus Kematian Siswa SMPN 2 Grabag Magelang, Pelaku Minta Maaf Sebelum Jemput Korban

Pelaku datang bersama rombongan minta maaf karena mencuri HP pelajar SMPN 2 Grabag Magelang WHS. Datang kali kedua mengajak belajar

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Tribunjogja/Nanda Sagita Ginting
Lokasi penemuan mayat remaja di kebun kopi di Dusun Kupen, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Kamis (04/08/2022) kemarin. Polisi memasang police line untuk mengamankan lokasi pembuangan mayat korban pembunuhan tersebut. 

TRIBUNJOGJA.COM - Kasus kematian remaja pelajar SMPN 2 Grabag Magelang atas nama Wahid Syaiful Hidayat (13), membuat keluarga korban sangat terpukul. Keluarga pun berharap petugas polisi mengusut tuntas kasus ini dan pelaku mendapat hukuman berat.

Fakta baru kini diungkap Kepala Dusun Sudimoro, Sih Agung, bahwa kedatangan terduga pelaku sebelum kejadian itu tidak hanya sekali, tetapi dua kali.

Kali pertama datang bersama rombongan untuk minta maaf karena mencuri HP, dan untuk kedua kalinya datang untuk mengajak mengerjakan tugas bersama.

Hari itu menjadi moment terakhir sebelum WHS dinyatakan hilang. WHS yang sempat hilang akhirnya diketahui telah dianiaya oleh teman satu sekolahan di SMPN 2 Grabag hingga tewas.

Mayat saat dilakukan evakuasi oleh petugas, Kamis (04/08/2022)
Mayat saat dilakukan evakuasi oleh petugas, Kamis (04/08/2022) (SAR Grabag)

Jenazahnya ditemukan pada Kamis (04/08/2022) sekitar pukul 14.00 WIB. Korban sempat dinyatakan hilang kemudian ditemukan di perkebunan yang berada di Dusun Kopen, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag.

Keluarga korban sangat terpukul dengan kabar duka meninggalnya Wahid Syaiful Hidayat.  

Keluarga korban WHS (13) diwakili Kepala Desa Sudimoro, Sih Agung meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

"Yang jelas, harapan keluarga korban yakni pelaku harus dihukum yang seberat-beratnya, sesuai dengan perbuatannya," terangnya.

Sih Agung mengatakan, saat ini kondisi keluarga korban masih sangat terpukul bahkan belum bisa dimintai keterangan.

"Orangtua korban nangis terus, itu sejak ditemukan jenazah sampai sekarang. Masih sangat terpukul. Bahkan usai dilakukan autopsi, orang tua korban tidak melihat jenazah karena tak sanggup,"tuturnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved