Penyakit Cacar Monyet Zoonotik, Pakar UGM: Perlu Kebijakan Pembatasan Transportasi Hewan

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama, menyatakan banyak pihak perlu untuk meningkatkan edukasi dan kewaspadaan.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai keadaan darurat kesehatan global.

Bahkan, kabarnya, suspek cacar monyet sudah menjangkiti seseorang di Jawa Tengah

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan wabah cacar monyet saat ini telah menunjukkan situasi darurat kesehatan publik yang harus menjadi perhatian internasional.

Merespons pernyataan tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama, menyatakan banyak pihak perlu untuk meningkatkan edukasi dan kewaspadaan.

Ia menilai, itu adalah strategi utama untuk menurunkan faktor risiko masyarakat terhadap kemungkinan terkena paparan virus.

Salah satu strategi lain yang bisa dilakukan adalah memberlakukan kebijakan pembatasan perdagangan dan transportasi hewan.

Baca juga: Ini Alasan Disdikpora DIY Menonaktifkan Kepala Sekolah dan Tiga Guru di SMAN 1 Banguntapan Bantul

“Saat wabah cacar monyet muncul di Amerika Serikat pada tahun 2003, di sana sempat diberlakukan kebijakan pembatasan perdagangan dan transportasi hewan," katanya, Kamis (4/8/2022).

Menurut Wayan, kebijakan itu perlu dipertimbangkan, terutama di daerah endemik dan negara-negara dengan wabah tersebut. 

Hewan yang mungkin telah kontak dengan hewan terinfeksi harus dikarantina serta ditangani sesuai standar pencegahan dan diobservasi gejala cacar monyet selama 30 hari.

“Karena penyakit cacar monyet ini adalah penyakit zoonotik, bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Sehingga, perlu ada pembatasan,” tuturnya.

Penularan dari hewan ke manusia bisa terjadi di saat menangkap, memproses, dan  mengonsumsi daging satwa liar. 

Bisa juga melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi dari hewan terinfeksi seperti mamalia kecil, termasuk rodensia, yakni tikus, tupai dan primata non-manusia, seperti monyet, kera.

Menurutnya, penularan secara kontak langsung ini dapat juga terjadi antarhewan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved