Berita Gunungkidul Hari Ini

Kisah Rumah Berusia 2 Abad di Tebing Watugupit Gunungkidul

Rumah Pusaka, itulah nama yang disematkan pada bangunan yang bertengger di tepi tebing Bukit Watugupit, Kalurahan Giricahyo,

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Alexander Ermando
Penampakan Rumah Pusaka di tepi tebing Bukit Watugupit, Kalurahan Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul. Rumah ini sudah berusa 2 abad lamanya, dibangun sejak 1822 silam. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Rumah Pusaka, itulah nama yang disematkan pada bangunan yang bertengger di tepi tebing Bukit Watugupit, Kalurahan Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul.

Nama yang terbilang istimewa, mengingat bangunan tersebut usianya sangat tua.

Persis 14 Juli lalu, rumah ini merayakan 200 tahun berdirinya dengan pentas budaya meriah.

Farsijana Adeney-Risakotta selaku pemilik juga menyebut rumah tersebut layak menerima pesta meriah.

Baca juga: Aturan Masuk Mal Pengunjung Wajib Telah Jalani Vaksinasi Booster, JCM Tunggu Kebijakan di DIY

"Sebab kami merayakan nilai inspirasi sekaligus masa depan rumah ini," kata Farsijana ditemui pada Kamis (14/07/2022) lalu.

Ia secara pribadi menamai rumah itu sebagai Griya Jatirasa. Rumah tersebut dibangun pada tahun 1822, dimiliki oleh Karso Griyo, yang merupakan seorang pejabat penting di masanya.

Menurut Farsijana, rumah tersebut aslinya berdiri di Prambanan, Sleman. Namun pada tahun 2004, pihak keluarga memutuskan untuk memindahkan rumah tersebut ke lokasinya sekarang.

Pindahnya lokasi rumah seakan menjadi takdir. Selang dua tahun kemudian yaitu 2006, Yogyakarta diguncang gempa besar, di mana banyak bangunan rumah rusak, termasuk di Prambanan.

"Saat itu rumah sudah pindah ke sini, sehingga kondisinya tetap utuh meski ada gempa," tutur Farsijana yang kini ikut mengelola rumah tersebut.

Ia menyebut sebagian besar bagian rumah masih utuh, begitu pula dindingnya yang terbuat dari kayu jati asli. Hanya ada sedikit penambahan untuk menyesuaikam fungsinya saat ini, sebagai bagian dari kompleks Edge Resort.

Farsijana memandang rumah ini istimewa bukan hanya karena usianya. Namun juga sejarah serta nilai-nilai kehidupan yang melingkupi, hingga pengaruhnya pada orang-orang sekitar.

"Sebagai bagian dari peradaban, rumah ini bukan hanya ada secara fisik tapi juga diikuti nilai-nilai," jelasnya.

Akses menuju Rumah Pusaka terbilang sulit. Namun perjuangan itu terbayarkan dengan suasana asri dan alami di sekitar rumah, ditambah pemandangan spektakuler menghadap langsung ke laut selatan di bawahnya.

Meski aksesnya sulit, Farsijana teguh berkeinginan agar rumah tersebut bisa memberi banyak manfaat positif bagi masyarakat. Sebab mereka bisa belajar sekaligus mendapatkan ketenangan batin berkat suasana sekitarnya.

Baca juga: UPDATE Jumlah Korban Kecelakaan Bus Pendaki Gunung Merbabu di Sawangan Magelang Sebanya 19 Orang

"Ini bukan lagi pusaka keluarga, tapi juga cagar budaya yang bisa memberi inspirasi bagi semua orang," ujarnya.

Kamis malam itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul, Agus Mantara sempat bertandang ke Rumah Pusaka. Ia pun mengaku takjub dengan keberadaan bangunan bersejarah tersebut.

Tak ingin sia-sia, ia menyatakan akan melakukan kajian secara mendalam terhadap Rumah Pusaka. Apalagi pemilik dan pengelola secara terbuka sudah mengizinkan.

"Kami berencana menetapkan rumah ini sebagai cagar budaya," kata Agus. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved