Berita Klaten Hari Ini

Kisah Warga Trucuk Klaten Daur Ulang Limbah Plastik Jadi Produk Bronjong Bernilai Ekonomi

Kegiatan itu kemudian berhasil mendatangkan pundi-pundi rupiah yang dapat menopang perekonomian warga sekitar.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ ALMURFI SYOFYAN
Seorang perajin saat menganyam bronjong berbahan limbah tali plastik di Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Minggu (10/7/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sampah plastik acap kali menjadi masalah bagi lingkungan mulai dari kota besar hingga wilayah pedesaan di Indonesia.

Namun tidak bagi warga Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dengan kreativitas daur ulang, kini sampah plastik bisa menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Warga desa setempat menganyam limbah tali plastik dari pabrik menjadi aneka kerajinan tangan seperti bronjong, kandang ayam hingga tempat sampah.

Kegiatan itu kemudian berhasil mendatangkan pundi-pundi rupiah yang dapat menopang perekonomian warga sekitar.

Seorang warga, Mulyadi (52) mengaku sudah tiga tahun terakhir mengolah limbah tali plastik itu.

"Dulunya saya menganyam bambu dan ini ada limbah tali plastik yang kemudian saya olah jadi bronjong dan ternyata diminati pasar," ucapnya pada TribunJogja.com, Minggu (10/7/2022).

Ia mengatakan, sebagian besar warga di lingkungan tempat tinggalnya juga mengolah limbah tali plastik tersebut untuk aneka kerajinan.

Satu set bronjong yang dihasilkan, dijual dengan harga Rp 260 ribu.

"Alhamdulillah, dalam seminggu saya bisa buat tiga set bronjong. Ini saya kerjakan sepulang dari sawah, biasanya siang hari sampai malam," ulasnya.

Menurutnya, limbah tali plastik itu dipasok tidak hanya dari pabrik yang ada di sekitar wilayah Klaten, namun juga didatangkan oleh pengepul dari daerah Jawa Timur.

"Kita beli Rp8 ribu per kilogram. Nanti dibikin bronjong atau aneka kerajinan lainnya. Prinsipnya memanfaatkan limbah," ucapnya.

Bronjong itu, katanya, bisa digunakan untuk membawa barang belanjaan atau dagangan dengan menggunakan sepeda motor.

Satu set bronjong yang terbuat dari limbah plastik itu bisa membawa beban hingga 60 kilogram.

"Kalau ketahanan juga bagus, asal jangan terbakar api saja," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bero, Suranto mengatakan di desa yang ia pimpin terdapat sekitar 70 warga yang menekuni usaha kerajinan dari limbah plastik itu.

"Ini trennya sejak 5 tahun terakhir dan banyak warga yang menekuni usaha. Ini limbahnya dibawa pengepul," katanya.

Menurutnya, ke depannya pihaknya bakal memfasilitasi pendirian koperasi agar para perajin memiliki wadah dan bisa mendapatkan bahan baku dengan mudah.

"Nanti kita fasilitasi pembuatan koperasi biara mulai dari pencarian bahan baku dan pemasaran bisa dibantu," akunya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved