Berita Pendidikan Hari Ini

Pakar Farmasi UGM Sebut Senyawa Ini yang Dibutuhkan dari Ganja Medis, Bukan Keseluruhan Tanamannya

Untuk terapi antikejang, yang dibutuhkan adalah senyawa CBD-nya, bukan keseluruhan dari tanaman ganja .

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
www.deviantart.com
Ilustrasi tanaman ganja 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perbincangan legalisasi ganja medis selalu menjadi pro kontra.

Apalagi, baru-baru ini, ada seorang ibu dari Sleman, Yogyakarta yang viral lantaran mendesak pemerintah segera melegalkan ganja untuk terapi medis.

Ditambah, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan fatwa terkait ganja medis.

Pro kontra tersebut jadi terus dibicarakan di media sosial.

Banyak warganet merasa ganja medis bisa menyebabkan banyak orang kecanduan.

Baca juga: IDI Buka Suara soal Penggunaan Ganja untuk Medis di Indonesia

Sehingga, dengan adanya wacana legalisasi ganja medis, maka akan ada potensi penyalahgunaannya.

Akan tetapi ada pula yang beranggapan bahwa ganja medis bisa digunakan untuk mengatasi suatu penyakit.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Apt. Zullies Ikawati, Ph.D., menjelaskan bahwa ganja memang bisa digunakan untuk terapi atau obat.

Untuk itu, dinamakan ganja medis, bukan hanya sekadar ganja .

Hal ini karena di dalamnya mengandung beberapa komponen fitokimia yang aktif secara farmakologi.

Dikatakannya, ganja mengandung senyawa cannabinoid yang di dalamnya terdiri dari berbagai senyawa lainnya.

Senyawa yang utama adalah tetrahydrocannabinol (THC) yang bersifat psikoaktif.

“Psikoaktif artinya bisa memengaruhi psikis yang menyebabkan ketergantungan dan efeknya kearah mental,” jelasnya, Kamis (30/6/2022).

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved