Berita Klaten

Respon Sejumlah Warga Klaten Soal Rencana Kebijakan Beli Minyak Goreng Pakai PeduliLindungi

Warga meminta skema kebijakan pemerintah terkait kewajiban membeli minyak goreng pakai aplikasi PeduliLindungi dikaji ulang.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ ALMURFI SYOFYAN
Sejumlah petugas saat mengisi jeriken dengan minyak goreng curah di Pasar Srago, Klaten beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sejumlah warga di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mengaku belum mengetahui mengenai kebijakan pemerintah pusat, yang merencanakan pembelian minyak goreng curah rakyat (MGCR) wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Seorang warga, Febby (32), mengaku belum tahu sama sekali mengenai kewajiban beli minyak goreng curah pakai aplikasi PeduliLindungi.

"Nggak tahu soal pakai aplikasi. Saya beli cuma satu kilogram untuk kebutuhan rumah tangga, itu tahan untuk seminggu. Belinya masih seperti biasa, belum pakai aplikasi," ucapnya saat TribunJogja.com temui di Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Selasa (28/6/2022).

Ia meminta skema kebijakan membeli minyak goreng pakai aplikasi PeduliLindungi dikaji ulang.

Sebab, masyarakat kecil seperti dirinya hanya membutuhkan minyak goreng curah tidak dalam jumlah banyak.

"Kalau warga yang beli minyak 10 kilogram ya enggak apa-apa diminta itu aplikasi. Kalau saya kan orang kecil dan belinya cuma 1 kilogram. Masak iya, harus pakai aplikasi," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini dirinya masih membeli minyak goreng curah dengan harga normal Rp15 ribu per kilogram.

Ia pun berharap, harga tersebut tetap stabil dan pasokan minyak goreng curah tetap lancar.

Warga lainnya, Anik (38) mengaku juga belum tahu mengenai kebijakan membeli minyak goreng pakai aplikasi PeduliLindungi tersebut.

"Kalau saya belum tahu, mas. Kalau saya sih, inginnya itu dikaji lagi, sebab, kalau orang tua yang beli, mereka mana tahu aplikasi dan enggak semuanya warga punya smartphone," jelasnya.

Sementara seorang pedagang minyak goreng di Pasar Srowot, Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Karto (72) menyebut jika ditingkat pengecer pembelian minyak goreng secara kulakan harus menyertakan fotokopi KTP.

"Kebijakan itu, sudah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Kalau kulakan minyak goreng curah pakai KTP, saya ikut saja karena itu aturannya," ucapnya.

Ia mengatakan, setiap kali kulakan minyak goreng, dirinya bisa membeli minyak sekitar dua hingga tujuh jeriken.

Satu jeriken berisi sekitar 17 kilogram minyak curah.

Karto lalu menjual minyak goreng curah tersebut, kepada para pembeli seharga Rp15 ribu per kilogram.

Menurutnya, terkait adanya wacana pembelian minyak goreng curah pakai aplikasi, dirinya hanya bisa pasrah dan mengikuti.

"Yang penting minyaknya ada. Saya ikut saja aturan pemerintah kalau memang pakai aplikasi. Tapi, sampai sekarang sebenarnya saya belum tahu soal beli pakai aplikasi, kalau pakai KTP sudah mulai," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved