Perang Rusia Ukraina

Jadi Juru Damai Perang Rusia-Ukraina, Jokowi Akan Temui Putin dan Zelensky

Joko Widodo akan temui Vladimir Putin dan Volodymyr Zelensky menjadi juru damai konflik Rusia-Ukraina

Tayang:
Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Presiden Jokowi hadir ke tempat persemayaman Buya Syafii Maarif di masjid Gedhe Kauman, Jumat (27/5/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menemui Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky di Kyiv, dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Kunjungan Jokowi ke kedua negara itu akan dilakukan setelah ia mengikuti Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) G7 pada Minggu (26/6) hingga Senin (27/6).

"Dari Jerman, Presiden Jokowi direncanakan mengunjungi Kyiv, Ukraina, dan Moskow, Rusia. Kunjungan ke kedua negara ini merupakan kunjungan yang dilakukan dalam situasi yang tidak normal," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam press briefing pada Rabu (22/6).

"Di dalam kunjungan ke Kyiv dan Moskow, tentunya Bapak Presiden akan melakukan pertemuan dengan Presiden [Ukraina Volodymyr] Zelensy dan Presiden [Rusia Vladimir] Putin," lanjutnya.

Tak sekadar bertemu kedua presiden, Retno mengatakan Jokowi juga akan mencoba mendorong perdamaian antara kedua negara di tengah perang yang masih terus berkecamuk.

Presiden RI Joko Widodo dalam konferensi pers jelang keberangkatan ke AS, Selasa 10 Mei 2022
Presiden RI Joko Widodo dalam konferensi pers jelang keberangkatan ke AS, Selasa 10 Mei 2022 (DOK. YouTube Sekretariat Presiden)

"Kunjungan presiden ini menunjukkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan, mencoba memberikan kontribusi untuk menangani krisis pangan yang diakibatkan karena perang dan dampaknya dirasakan oleh semua negara, terutama negara berkembang dan berpendapatan rendah, dan terus mendorong spirit perdamaian," ujarnya.

Retno mengatakan Jokowi akan menjadi pemimpin negara Asia pertama yang melawat Ukraina dan Rusia di tengah perang ini.

"Presiden Jokowi akan merupakan pemimpin Asia pertama yang akan melakukan kunjungan ke dua negara tersebut," katanya.

Kabar pertemuan Jokowi dan Putin memang santer terdengar dalam beberapa waktu belakangan.

Rencana ini langsung memicu kontroversi terkait posisi Jokowi di tengah konflik kedua negara tersebut.

Sejak perang pecah pada Februari lalu, posisi Indonesia memang kerap menjadi sorotan, terutama karena peran Indonesia yang kini sedang menyandang presidensi G20, di mana Rusia menjadi salah satu anggota.

Indonesia menyatakan akan tetap mengundang Putin sebagai kepala negara anggota G20 dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) yang bakal digelar di Indonesia akhir tahun ini.

Jokowi dikritik Barat

Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato pelantikannya pada tanggal 20 Januari 2021, di Capitol AS di Washington, DC. Biden dilantik sebagai presiden ke-46 AS.
Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato pelantikannya pada tanggal 20 Januari 2021, di Capitol AS di Washington, DC. Biden dilantik sebagai presiden ke-46 AS. (ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP)

Keputusan ini menuai kritik dari sejumlah pihak, terutama negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.

AS bahkan mengancam tak akan menghadiri rangkaian pertemuan G20 jika ada Rusia.

Dalam sejumlah rapat di AS, beberapa negara Barat juga sudah menunjukkan protes dengan walk out.

Presiden AS, Joe Biden, lantas mendesak Indonesia untuk mengajak Ukraina ke KTT G20 jika memang tetap ingin mengundang Rusia.

Di sisi lain, Jokowi juga sempat berkomunikasi langsung dengan Zelensky. Dalam perbincangan itu, Jokowi juga mengundang Zelensky untuk hadir ke KTT G20.

Terkait rencana Jokowi menemui Putin dan Zelensky, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD sebelumnya mengatakan rencana itu hal yang biasa.

"Ya itu agenda presiden. Saya kira apa masalahnya? Kan cuma mau ketemu," kata Mahfud di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6).

Diplomasi damai

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin (dok.istimewa/kolase Tribun Jogja)

Sedangkan anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin menilai rencana kunjungan kenegaraan Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan hal positif bagi diplomasi damai Indonesia.

Hasanuddin menyebut kunjungan itu merupakan langkah sangat strategis karena dua hal. Pertama, kunjungan Jokowi diharapkan dapat meredakan ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang akhir-akhir ini semakin meningkat.

"Setidaknya sudah 100 hari lebih terjadi konflik bersenjata antara kedua negara, dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir," kata Hasanuddin.

Kedua, kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan bagi solusi damai antara kedua negara.

Sebab, konflik Ukraina dan Rusia telah berdampak negatif bagi stabilitas harga komoditas seperti minyak mentah dan bahan pangan secara global.

Termasuk di Indonesia, harga beberapa bahan pangan seperti gandum atau minyak goreng mengalami kenaikan drastis.

Menurut legislator PDI Perjuangan itu, jika konflik tersebut tidak dicarikan jalan keluarnya secara damai dan semakin berlarut-larut, maka dunia akan jatuh kedalam krisis pangan global.

"Semoga agenda kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke kedua negara nanti dapat membuahkan hasil yang positif dan konkrit bagi Indonesia di tengah ancaman krisis pangan dan ekonomi global yang semakin terlihat didepan mata saat ini," pungkas TB Hasanuddin.(tribun network/ras/den/mam/dod)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved