Sandal Upanat Sebagai Alas Kaki ke Struktur Candi Borobudur untuk Kurangi Keausan Material

Penggunaan Sandal Upanat sebagai alas kaki ke struktur Candi Borobudur semakin menguat setelah pemerintah memberikan sinyal diperbolehkan

TRIBUNJOGJA.COM/ Nanda Sagita Ginting
Sandal Upanat yang akan dijadikan alas kaki wajib saat menaiki Candi Borobudur, Rabu (08/06/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Penggunaan Sandal Upanat sebagai alas kaki ke struktur Candi Borobudur semakin menguat setelah pemerintah memberikan sinyal diperbolehkan kembali menaiki struktur candi .

Setelah dua tahun ditutup untuk umum meskipun masih tetap akan dilakukan pembatasan.

Nama Upanat sendiri, diambil mengikuti gambar Sandal yang berasal dari relief Candi Borobudur nomor 150.

Brahmantara, (Pamong Budaya Muda) Balai Konservasi Borobudur (BKB) Ketua Pokja Pemeliharaan Candi Borobudur menuturkan, penggunaan Sandal Upanat guna meminimalisir gesekan pada bebatuan candi .

Baca juga: Nelayan di Kabupaten Bantul Memilih Tak Melaut Karena Gelombang Tinggi dan Paceklik

" Sandal Upanat memakai spons (alas Sandal Upanat ) lebih lunak sehingga gaya gesek lebih rendah dibandingkan dengan alas kaki seperti sepatu secara umum. Kalau berapa persennya pengurangan gesekan ketika memakai Upanat , kami tidak menghitung. Hanya dari penelitian yang kami lakukan diambil dari beberapa jenis spons dari yang paling keras sampai yang paling lunak," ujarnya saat ditemui di kantornya, Rabu (08/06/2022).

"Ternyata, setelah dilakukan uji gesekan ke batu dengan porositas yang sama dengan tangga cand . Dicek dengan pembesaran sampai 25 ribu kali, efek yang ditimbulkan dari porositasnya itu, spons yang lebih keras menghasilkan tesktur pori batuan yang lebih besar. Otomatis, itu penyebabkan keausan yang lebih besar, jadi dipilih spons yang paling lunak yang dipakai di Sandal Upanat ," tambahnya.

Ia melanjutkan, gaya gesekan yang membuat keausan material bebatuan di candi Borobudur menghasilkan cekungan hingga 5 sentimeter.

Sebagian besar keausan batu terjadi pada bagian tangga candi .

"Jadi, gaya gesek ke material batu itu menghasilkan 5,03×10 (pangkat minus 10). Lalu dikalikan dengan jumlah pengunjung yang naik. Jadi hitungannya secara teoritis seperti itu,  juga dilihat dari kondisi di lapangan," ucapnya.

Upaya mengurangi gesekan pada bebatuan candi , lanjutnya, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan pada candi Borobudur .

Sebelum menggunakan Sandal , pihak BKB pernah melakukan penutupan (covering) bebatuan candi dengan kayu.

"Sebenarnya covering dengan kayu itu efektif untuk menahan bahkan bisa menghentikan (keausan material). Namun, banyak masukan terkait dari visual aesthetic-nya, mungkin sebagian orang menganggap sebagai polusi visual. Padahal penggunaan covering di negara lain pun sudah ada yang lakukan, seperti di Angkor Wat," ujarnya.

Untuk penggunaan alas kaki, lanjut Bram, juga sudah banyak diterapkan di kuil-kuil yang ada di luar negeri.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved