Keras, Jubir KKB Sebut Egianus Kogoya Anak Kecil yang Kaget Melihat Papua
Sebby Sambom bahkan menyebut Egianus Kogoya seorang anak kecil yang kaget melihat kondisi Papua saat ini.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, PAPUA - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua mulai terpecah.
Pimpinan-pimpinan KKB Papua terlibat perang statmen pascatudingan dari Egianus Kogoya soal kinerja diplomasi Papua Merdeka di luar negeri.
Egianus mengkritik Benny Wenda, Sebby Sambom, Victor Yeimo dan Jefri Pagawak yang hanya menumpang hidup dari perang yang dilakukan oleh pihaknya.
Menyikapi kritikan tersebut, juru bicara KKB Papua Sebby Sambom langsung memberikan respon keras.
Sebby Sambom bahkan menyebut Egianus Kogoya seorang anak kecil yang kaget melihat kondisi Papua saat ini.
Bahkan Sebby Sambom mengakui kalau TPNPB-OPM semakin lemah hingga tak bisa lagi berjuang untuk Papua merdeka.
TPNPB-OPM telah dikepung dari berbagai penjuru oleh TNI-Polri.
"Kami semua sebenarnya terus berjuang untuk Papua merdeka," kata Sebby Sambom dikutip dari Pos.Kupang.com.
"Kau, Egianus Kogoya, adalah anak kecil yang baru tumbuh dan kaget melihat Papua yang kini mulai merdeka," kata Sebby Sambom.
"Egianus itu tidak bersekolah sehingga tak mengerti apa itu diplomatik," tandas Sebby Sambom.
Karena itu, katanya, lebih baik Egianus Kogoya diam dan berhenti dari tindakanmu yang menyusahkan masyarakat dengan merampok.
"Kau lebih baik diam, atau kami bongkar semua tempat persembunyianmu," ancam Sebby Sambom dengan nada marah.
Baca juga: Pentolan TPNPB OPM Sebby Sambom Balas Egianus Kogoya, Ancam Bongkar Persembunyian KKB Papua
KKB Papua Kini Pakai Cara Baru, Kirim Perempuan Jadi Mata-mata
Kini, kewaspadaan sudah menjadi hal mutlak untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Apalagi, prajurit tiba-tiba kedatangan orang asing.
Seperti halnya, sebuah pos keamanan yang ditempati anggota TNI Polri, tiba-tiba didatang oleh dua sosok perempuan sambil membawa buah-buahan yang disebutnya sebagai hasil panen dari kebun.
Sambil tersenyum malu, keduanya menyampaikan maksud kedatangan mereka di pagi hari itu. Mereka ingin meminta bantuan bahan pangan seperti beras dan mie instan. Ibarat barter, itulah situasi yang terjadi pada pagi itu di salah satu Pos Keamanan yang ditempati TNI Polri.
Sebagaimana video yang beredar luas di media sosial belakangan ini, aparat TNI Polri pun menyambut kedua wanita itu dengan senang hati, bahkan kepada kedua tamu itu pun diberikan bantuan pangan seperti yang diminta. Namun ada hal yang mengganjal di benak aparat TNI Polri pada pagi hari itu.
Salah seorang di antara kedua tamu tersebut, memperlihatkan gestur tubuh yang tak biasanya. Wanita itu gusar, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia juga kelihatan tak sabar untuk segera pulang dari Pos Keamanan itu.
Ketika bantuan itu baru diberikan, wanita tersebut buru-buru meninggalkan Pos Keamanan dengan seribu satu alasan.
Saat yang sama, prajurit yang menempati pos tersebut sengaja mengulur waktu agar temannya lebih lama di tempat itu.
Ketika wanita itu beranjak pergi dari pos, prajurit TNI pun mengambil teropong kemudian mencoba mengamatinya dari kejauhan.
Betapa terkejutnya, ternyata wanita tersebut bukan kembali ke rumahnya tapi berjalan ke sebuah honai yang letaknya di dekat hutan.
Beberapa prajurit lain mengambil jalur lain untuk mengintai wanita tersebut.
Saat prajurit itu telah berada di posisi yang tepat dan melakukan pengintaian, ia melihat wanita tersebut sedang bersama sekelompok pria bersenjata.
Aparat pun menduga bahwa wanita tersebut hanya berpura-pura menukar bahan pangan dengan buah-buahan di pos keamanan yang ditempati TNI Polri.
Karena tujuan utamanya, adalah melihat suasana di Pos Keamanan tersebut, memata-matai aktivitas prajurit TNI Polri kemudian melaporkannya kepada KKB untuk merencanakan penyerangan.
Dari balik teropong juga diketahui bahwa di honai dekat hutan itu, ternyata pemuda yang berkumpul semakin banyak jumlahnya.
Umumnya membawa senjata api dan hanya beberapa orang saja yang hanya berbekal busur dan anak panah.
Wanita yang tadinya berada di honai tersebut, tiba-tiba keluar dari meninggalkan honai lewat pintu samping. Melihat keadaan yang tak terlalu menguntungkan, prajurit TNI Polri pun mulai bersikap siaga.
Apalagi dari balik teropong, disaksikan para pemuda itu mulai mengisi amunisi ke dalam senjata yang dipegangnya.
Memastikan bahwa cara itu sebagai persiapan untuk penyerangan, TNI Polri pun mencoba melepaskan tembakan peringatan.
Alhasil, tembakan itu disambut pula dengan tembakan yang membabibuta oleh kelompok kriminal bersenjata tersebut.
Dalam situasi yang demikian, satu per satu anggota KKB dikirim ke alam baka termasuk suami dari wanita yang meminta bantuan tersebut.
Tindakan tegas terukur itu terpaksa dilakukan TNI Polri, lantaran siasat yang dilakukan KKB itu bukan baru di Tanah Papua.
Tindakan itu sudah sering dihadapi, sehingga ketika pos keamanan didatangi tamu tak diundang, aparat berseragam loreng pun pasti siaga menghadapinya.
Dari video yang viral tersebut, terungkap bahwa insiden yang satu ini terjadi di wilayah Intan Jaya, Papua.
Tak disebutkan kapan kontak senjata itu terjadi. Namun dalam peristiwa itu aparat bersenjata terpaksa melumpuhkan KKB karena tindakannya membahayakan pihak lain.
Sampai saat ini, baik di wilayah Intan Jaya, maupun Puncak Jaya dan Kabupaten Nduga, aksi KKB terus terjadi. Baik Lekagak Telenggen, Oni Kobagau, Goliat Tabuni maupun Egianus Kogoya, secara bergantian melakukan penyerangan ke TNI Polri.
Bila targetnya tak terwujud, maka mereka sesuka hati melampiaskannya ke warga sipil, baik itu guru, ASN, tukang ojek, sopir, pekerja bangunan maupun tenaga medis lainnya.
Baru-baru ini, KKB menembak mati seorang guru kemudian membakar habis rumah yang ditempatinya. Tak diketahui persis apa motivasi dari tindakannya menghabisi tenaga pendidik tersebut.
Namun KKB menyebutkan bahwa guru itu ditembak mati karena yang bersangkutan menjalankan tugas sebagai kaki tangan TNI Polri.
Meski tudingan KKB itu tak berdasar, namun cara itu biasa digunakan untuk menunjukkan eksistensinya di Tanah Papua. Tujuannya satu, yakni merebut kemerdekaan dari NKRI yang disebutnya sebagai penjajah.
Atas tindakan KKB yang bertujuan meraih kemerdekaan itu, Menko Polhukam Mahfud MD menandaskan bahwa KKB jangan bermimpi soal kemerdekaan. Sebab mayoritas negara di dunia mengakui Papua sebagai bagian dari NKRI.
Papua merupakan bagian dari wilayah Indonesia. (*)