Ribuan Wisatawan Kunjungi Wana Wisata di Kapanewon Dlingo Bantul

Rinciannya, wisata Pengger 572 orang, Becici 308 orang, Lintang sewu 47 orang, Pinus Asri 36 orang, Pinus Sari 1.006, Seribu Batu 289 orang dan Panguk

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Ilustrasi foto dok. Para Wisatawan tengah befoto dan berlibur di puncak Becici, Muntuk, Dlingo, Bantul, Sabtu (23/6/2018) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ribuan wisatawan sudah menyerbu kawasan wisata alam hutan pinus di Kapanewon Dlingo sejak Senin (2/5/2022). Jumlah wisatawan jauh lebih meningkat pada hari Selasa (3/5/2022).

Purwo Harsono selaku Ketua Koperasi Notowono yang mengelola sejumlah objek wisata di Kapanewon Dlingo, mendata kunjungan ke wana wisata pada Senin (2/5/2022) atau saat hari Raya Idul Fitri mencapai 2.298 wisatawan.

Rinciannya, wisata Pengger 572 orang, Becici 308 orang, Lintang sewu 47 orang, Pinus Asri 36 orang, Pinus Sari 1.006, Seribu Batu 289 orang dan Panguk sebanyak 40 orang wisatawan.

Peningkatan jumlah kunjungan hampir tiga kali lipat dirasakan pada H+1 Lebaran atau Selasa (3/5/2022) yakni 6.328 orang wisatawan.

Pinus Sari masih menjadi andalan dengan jumlah kunjungan 2.785 orang, kemudian Pengger 1.539 orang, Becici 1.122 orang, Lintang Sewu 71 orang, Pinus Asri 133 orang, Seribu Batu 613 orang, dan Panguk 65 orang.

"Wisatawan yang datang masih didominasi roda empat, untuk bus masih sangat rendah, hampir belum ada," ungkapnya, Rabu (4/5/2022).

Pria yang akrab disapa Ipung ini masih akan terus melakukan pendataan hingga hari Minggu nanti.

Sehingga pihaknya dapat melakukan perbandingan kunjungan wisata saat Lebaran tahun ini dibandingkan hari biasa dan Lebaran tahun kemarin.

Data itu akan menjadi bahan untuk evaluasi ke depannya.

Dalam kesempatan itu Ipung menyatakan bahwa untuk saat ini pihaknya masih mengandalkan mass tourism dan bukan quality tourism.

Kunjungan wisatawan saat Lebaran tahun ini merupakan batu loncatan, setelah pengelolaan wisata alam di Kapanewon Dlingo kembali dari nol karena dampak pandemi Covid-19.

"Untuk berkembang membuat daya tarik, apalagi dengan cost yang cukup tinggi, kami angkat tangan," ucapnya.

Untuk libur Lebaran tahun ini, dirinya mengakui belum menggelar atraksi wisata karena menunggu kepastian aturan atau regulasi dari pemerintah.

Jangan sampai ketika sudah disiapkan, tetapi ternyata masih belum diperbolehkan.

Dan setelah Lebaran ini pihaknya baru akan mengemas quality tourism dan tak hanya mengandalkan mass tourism saja.

"Jadi atraksi wisata, layanan wisata yang kita upgrade, baik dari desa wisata maupun wana wisata. Yang wana wisata lebih kepada pertunjukan atau pagelaran budaya itu akan jadi daya tarik. Tapi itu untuk kedepan, kalau sekarang yang penting pemudik dapat menikmati suasana alam yang aman," urainya.

(*/nto/ Tribun Jogja )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved