Kemenag DIY Sediakan Ruang Publikasi, Ajak Siswa dan Guru Madrasah untuk Terus Menulis

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DI Yogyakarta memberikan ruang publikasi mandiri bagi seluruh madrasah negeri.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
ilustrasi berita pendidikan 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DI Yogyakarta memberikan ruang publikasi mandiri bagi seluruh madrasah negeri.

Ruang tersebut sudah diciptakan sejak tahun 2016 dan tidak sekadar menghadirkan publikasi tentang kegiatan madrasah, tapi juga ajang kreativitas antar guru.

Berkunjung ke laman https://diy.kemenag.go.id, setiap hari pengunjung akan mendapatkan informasi berbagai kegiatan di madrasah mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

“Awalnya program ini bertujuan mengenalkan keberadaan madrasah ke masyarakat Yogyakarta. Dengan karakter masyarakatnya yang berbeda, kami nilai madrasah belum banyak dikenal seperti di Jawa Timur,” kata Pranata Humas Kanwil Kemenag Bramma Aji Putra kepada Tribunjogja.com, Jumat (29/4/2022).

Melalui serangkai pelatihan dasar jurnalistik yang setiap tahun diselenggarakan di madrasah se-Yogyakarta, Bram menjelaskan program ini disambut baik oleh para guru yang ditugaskan madrasah sebagai tim hubungan masyarakat (humas) atau oleh Kanwil Kemenag dinamakan kontributor.

Selama enam tahun berjalan, 71 madrasah yang terdiri dari 21 MIN, 35 MTsN, dan 15 MAN di bawah Kanwil Kemenag berlomba-lomba untuk mengirimkan naskah berita.

Baca juga: Sebanyak 3,9 Juta Wisatawan Diprediksi Kunjungi Kota Yogyakarta Selama Libur Lebaran 2022

Bram menerangkan, setidaknya, setiap hari, ada minimal sepuluh berita yang masuk untuk antri diedit kemudian ditayangkan.

“Dulu awalnya memang masih fokus pada pemberitaan mengenai kunjungan maupun prestasi. Namun, semakin ke sini, para guru semakin kreatif dalam penyajian konten,” lanjutnya.

Bahkan, kegiatan siswa seperti berlatih menari untuk tampil di acara tutup tahun ajaran pendidikan, tidak luput dari peliputan guru

Bagi Bram, yang bertindak sebagai editor, hal itu tidak ada masalah malah menjadi tambahan variasi konten.

“Sempat ada yang protes kenapa berita seperti itu ditayangkan. Saya jelaskan bahwa bukan substansi isinya, tapi kebanggaan siswa dan orang tuanya saat masuk berita itulah yang kami kejar,” katanya.

Dalam memberikan materi jurnalistik dasar kepada para guru madrasah, dirinya mengaku sama sekali tidak mendapatkan kesulitan. 

Baginya, dengan tingkat kemampuan guru-guru yang sudah teruji dan keinginan mengejar hal-hal baru, penangkapan materi lebih mudah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved