Dua Kalurahan di Bantul Dinobatkan Tercepat se-Indonesia dalam Pembacaan dan Pemanfaatan SDGs Desa
Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar terus mendorong agar pemerintah desa menyelesaikan
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar terus mendorong agar pemerintah desa menyelesaikan pemutakhiran data berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.
Dua kalurahan di Kabupaten Bantul yakni Kalurahan Muntuk di Kapanewon Dlingo dan Kalurahan Segoroyoso, Kepanewon Pleret menjadi yang tercepat se-Indonesia dan sukses melakukan gelar pembacaan dan pemanfaatan SDGs desa.
"Ini yang pertama kali se-Indonesia. Bantul memang menjadi fokus atau lokus pertama untuk gelar pembacaan karena saya melihat Kabupaten Bantul yang cukup sukses dalam pemutakhiran data berbasis SDGs desa," ujarnya saat Gelar Pembacaan dan Pemanfaatan SDGs Desa di Kalurahan Muntuk, Rabu (27/4/2022).
Baca juga: Pegadaian Jadi Jalan Ninja Masyarakat untuk Penuhi Kebutuhan Lebaran
Menurutnya, SDGs Desa adalah kebutuhan desa untuk memetakan secara lebih detil berbagai permasalahan dan potensi yang ada.
Ia mengatakan SDGs desa ini dapat dibaca oleh seluruh warga termasuk pemerintah yang di atasnya. Dengan SDGs, warga masyarakat bisa ikut mengawal dan memantau pembangunan di desa.
"Terkait pemanfaatannya, semua bisa memanfaatkan data untuk kepentingan pembangunan," imbuhnya.
Ia pun meminta Bupati Bantul menganggarkan APBD, jika memungkinkan di perubahan anggaran APBD 2022 untuk penyiapan forum atau ruang data. Dengan demikian, Bupati bisa melihat dengan mudah data yang selalu di update oleh lurah.
"Saya yakin pasti akan ada perbedaan data (di tingkat kabupaten sampai pusat), tapi yang paling bisa dipercaya adalah data yang dimiliki oleh desa. Karena desa lebih tahu apa yang ada di sana," terangnya.
Ia berharap perangkat desa dapat memahami apa yang dihadapi warganya. SDGs desa dapat menjadi instrumen alat agar semua pihak dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan sekaligus apa yang jadi kelebihan di desa.
Sementara itu Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan pemutakhiran data berbasis SDGs desa yang digaungkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dalam mengimplementasikan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat berbasis data, telah dilaksanakan sejak 1 Maret 2021 dan selesai pada 31 Mei 2021.
"Pemutakhiran data tersebut merupakan pemutakhiran data indeks desa membangun (IDM) yang lebih detail, lebih mikro sehingga bisa memberikan informasi lebih banyak dan sebagai proses perbaikan karena terdapat pendalaman data-data pada level RT, keluarga, dan warga," terangnya.
Menurutnya, hasil pemutakhiran data tersebut sangatlah penting karena menjadi dasar penyusunan rencana kerja pemerintah kalurahan tahun anggaran 2022 dan status desa hasil pemutakhiran tersebut menjadi salah satu dasar pengalokasian dana desa tahun anggaran 2022 oleh Kementerian Keuangan.
"Dari hasil pendataan indeks desa mandiri Kabupaten Bantul tahun 2022, diketahui bahwa terdapat 65 desa mandiri di kabupaten bantul, meningkat dari tahun 2021 sejumlah 46 desa berstatus mandiri. Hal ini cukup membanggkakan dan semoga menjadi penyemangat bagi 10 desa lainnya yang saat ini masih berstatus desa maju," tandasnya.
Sedangkan Lurah Muntuk, Marsudi menyatakan bahwa pihaknya menjadi yang tercepat di DIY dalam pemutakhiran data berbasis SDGs desa yakni hanya memerlukan 27 hari kerja.
Baca juga: Memasuki H-6 Lebaran, Belum Ada Peningkatan Arus Kendaraan dari Arah Magelang ke Yogyakarta
"Kami tercepat di DIY, karena memang sebelumnya kami dengan RT, dibimbing dukuh dan seluruh pamong dan pendamping desa di kapanewon, sebelum ada data SDGs ini kami sudah melakukan pendataan dulu," ujarnya.
"Setiap bulan kita kasih form ke RT tentang kegiatan masyarakat, pertambahan penduduk, kematian, putus sekolah dan sebagainya," ujarnya.
Dan setelah munculnya aplikasi SDGs ini, Marsudi mengaku bahwa pihaknya sangat terbantu karena di dalam aplikasi ini pihaknya bisa melihat data secara komplit, mengetahui apa yang menjadi kelemahan, kekurangan dan rencana tindak lanjutnya.
"Dengan adanya SDGs, saya sangat berterimakasih ke Kemendes PDTT, sehingga kami bisa mengetahui secara detail kondisi desa," tandasnya. (nto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penghargaan-kepada-Lurah-Muntuk-Rabu-2742022.jpg)