Kurangi Impor Sampah : Mulai Dengan Pilah Sampah Dari Rumah

Buruknya manajemen pengelolaan sampah di Indonesia, mengakibatkan kurangnya kebutuhan sampah yang layak daur ulang

Kurangi Impor Sampah : Mulai Dengan Pilah Sampah Dari Rumah
ist
dr. Raudi Akmal, Ketua DPD PAN Sleman Atau Wakil Ketua Komisi D

*Oleh : dr. Raudi Akmal, Ketua DPD PAN Sleman Atau Wakil Ketua Komisi D

SEJAK tahun 1960-an, banyak negara maju yang mengirim sampah-sampahnya ke negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri, menurut data Comtrade, impor sampah sudah mulai menggeliat sejak tahun 1990, kemudian mulai meningkat pada tahun 2010 dan memuncak pada tahun 2018 dengan berat hampir 3,2 juta ton. 

Kebutuhan impor sampah ini tak terlepas dari kebutuhan bahan baku industri. Indonesia setidaknya membutuhkan 7,6 juta ton per tahun bahan baku industri daur ulang plastik dan kertas. Angka yang sangat tinggi tentunya. 3,4 juta tonnya di impor untuk memenuhi kebutuhan produksi daur ulang.

Buruknya manajemen pengelolaan sampah di Indonesia, mengakibatkan kurangnya kebutuhan sampah yang layak daur ulang, sehingga untuk memastikan produksi daur ulang terus berjalan maka perusahaan industri membutuhkan impor sampah dari negara-negara barat. 

Sementara itu, dalam beberapa kasus, ternyata sampah yang dikirimkan oleh negara-negara barat tidak hanya sampah kertas tetapi juga berisi sampah plastik yang luarannya diberikan ‘kotak kertas’ agar bisa lebih mudah melewati pemeriksaan perbatasan di Pelabuhan.

Dalam sebuah hasil investigasi yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wet Conservation (ECOTON), sebuah Yayasan yang bekerja untuk menjaga kelestarian sungai-sungai di Provinsi Jawa Timur dan Kawasan sekitarnya menunjukkan bahwa masuknya sampah kertas impor sebagai bahan baku kertas juga disertai dengan sampah plastik dan persentasenya mencapai 35 persen. Ini sama saja Indonesia menjadi negara penampung sampah

Pada dasarnya, Indonesia memiliki potensi sampah yang besar dari berbagai sektor, khususnya sektor konsumsi rumah tangga. Optimalisasi sampah sendiri harusnya bisa memangkas bahkan menghilangkan impor sampah dari negara-negara lain. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia mencatat bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan rata-rata 19 juta ton timbunan sampah plastik dan kertas.

Namun yang digunakan untuk daur ulang masih rendah, yakni 46 persen dari total timbunan. Alhasil, 54 persen sampah terbuang ke TPA dan lingkungan hidup. Hal ini yang kemudian memicu pencemaran lingkungan yang semakin pesat. 

Besarnya potensi sampah ini, sayangnya tidak diiringi dengan manajemen sampah yang baik. Pengelolaannya belum ideal untuk industri daur ulang bahkan memakan ongkos produksi yang sangat besar. Pemerintah harus semakin aktif untuk menemukan solusi terbaik menyelesaikan persoalan ini.

Adanya SKB atau Surat Keputusan Bersama yang dikeluarkan pemerintah pada 27 Mei 2020 lalu memang sudah menjadi pedoman pemerintah untuk mengatur impor limbah non-B3 sebagai bahan baku industri. 

memastikan impor yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan, namun ini tetap butuh monitoring implementasi yang kuat. Mengingat hingga saat ini masih banyak impor sampah plastik yang ‘ikut’ dalam pengiriman kembali sampah ke Indonesia. 

Sementara itu, di tingkat yang lebih bawah yakni Kabupaten hingga rumah tangga perlu didorong untuk menerapkan manajemen pengelolaan sampah yang baik. Mengaktifkan kembali fungsi bank sampah bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah sampah yang terpilah sehingga bahan baku daur ulang sampah bisa terpenuhi dan layak untuk diproduksi.

Pemilahan sampah dari tingkat rumah menjadi bagian penting dalam mata rantai ekonomi sampah. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah pengumpulan sampah dan kualitas sampah yang dikumpulkannya. 

Solusi lain bisa dihadirkan dengan membentuk perusahaan atau lembaga yang memang bertanggung jawab untuk melakukan pemilahan tingkat dua setelah sampah sudah bisa dipilah di tingkat rumah tangga.

Tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi labeling sebagai negara ‘penampung sampah’ bisa kita hapus apabila impor sampah kita kurangi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved