Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Sebelum Nuzulul Quran

Alquran al-Karim; Kalam Allah yang tak dapat dipisahkan dari Allah SWT. Setiap huruf, ayat, kalimat, surah, juz, memiliki ragam keistimewaan.

Editor: ribut raharjo
Sebelum Nuzulul Quran
Istimewa
Khairul Imam, Pengasuh PPTQ Ibnu Sina Yogyakarta; Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta

Oleh: Khairul Imam, Pengasuh PPTQ Ibnu Sina; LD PWNU DIY

TRIBUNJOGJA.COM - Alquran al-Karim; Kalam Allah yang tak dapat dipisahkan dari Allah SWT. Setiap huruf, ayat, kalimat, surah, juz, memiliki ragam keistimewaan yang tak terkira.

Ia diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW lengkap dengan lafaz, makna, tilawah, dan mengandung kemukjizatan yang luar biasa, termasuk pada surat terpendek sekalipun.

Para ulama mengatakan bahwa Alquran adalah Kalam Allah yang diturunkan secara berangsur-angsur, dan bukan makhluk.

Berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya; tertulis dan dikumpulkan dalam bentuk korpus, terjaga di dada para hufaz, dibaca terus menerus dalam lisan kaum Muslim, dan senantiasa terdengar di telinga jutaan manusia.

Bisakah kita membayangkan ketika ayat yang pertama kali turun, dan seterusnya hingga menjadi satu Alquran yang utuh?

Persiapan Allah untukmenemukan “wadah” untukmenampung Kalam-Nya begitu rupa. Sehingga pantaslah saat Aisyah, istri beliau mengatakan bahwa perangai beliau itu sendiri merupakan cerminan dari Alquran (kana huluquhual-Quran).

Jauh sebelum itu, Nabi SAW telah dianggap sebagai makhluk yang berakhlak mulia. Hatinya dicuci dari segala bentuk penyakit dan sumbatan-sumbatan yang akan muncul. Saat kecil, Rasulullah SAW adalah seorang penggembala. Ketika beliau sedang menggembalakan kambing milik keluarga Halimah binti Abi Dzuaib dari Kabilah as Sa’diyah, tiba-tiba beliau didatangi dua malaikat. Keduanya pun mulai membelah dada Nabi SAW, mencuci, dan mengeluarkan bagian-bagian yang kotor dari hatinya.

Peristiwa ini dijelaskan oleh beliau sendiri saat bersabda, “Ketika aku sedang berada di belakang rumah bersama saudaraku untuk menggembalakan domba, tiba-tiba aku didatangi dua orang lelaki yang mengenakan baju putih dengan membawa baskom yang terbuat dari emas penuh dengan es.

Kedua orang itu menangkapku, lalumembedahperutku. Membedahnya dan mengeluarkan hatiku. Mereka mengeluarkan gumpalan hitam dan membuangnya. Kemudian keduanya membersihkan dan menyucikan hatiku dengan air itusampai bersih”.

Dari peristiwa tersebut, beliau beranjak besar dan dewasa. Lisannya dibersihkan dari semua bentuk dusta dan caci maki; matanya disapu dari segala macam penglihatan kotor dan pandangan merendahkan dan meremehkan. Dan seterusnya, tangan, kaki, tubuh, nafsu, birahi, dan seluruh jasmani dan ruhaninya diberi muatan Ilahi. Sehingga beliau tampil dalam bentuknya yang suci dan terjaga dari seluruh kotoran. Beliau hadir sebagai manusia yang terjaga (ma’shum).

Pembersihan demi pembersihan diri baik jasmani dan ruhani masih terus menerus dilakukan melalui tempaan dan ujian kesabaran sejak kecil hingga dewasa. Hidup di antara kaum papa dan miskin dan menjadi yatim semenjak lahir. Demikian pula dalam pergaulan dan ketika beranjak dewasa selalu terjaga dari teman-teman sebaya yang berperangai buruk.

Di samping para sahabatnya yang setia, yang dikenal dalam sejarah Islam karena keluhuran budi pekertinya, ada juga para sahabat semasa mudanya yang sama-sama memiliki perangai istimewa, seperti Hakim ibn Hazam, seorang pemimpin suku Quraisy terpandang yang belum memeluk Islam hingga penaklukan Mekah, juga DamadibnTsa’labah. Keduanya adalah sahabat dekat beliau, dan sama-sama memiliki akhlak mulia dan karakteryang begitu kuat.

Pada masa muda, beliau dibersihkan dari berbagai petaka. Dikasihi saudara-saudaranya, dilindungi oleh pamannya dari incaran mata-mata jahat yang hendak menggagalkan tujuan mulia. Perangainya yang indah menjadi teladan bagi sekitarnya. Kejujurannya dipuji masyarakatnya. Kecerdasannya dikagumi para saudagar yang bertemu dengannya. Sikap amanahnya menjadikannya kesohor dengan “al-Amin”, sosok yang tepercaya. Pujian dari lingkungan sekitar yang diperoleh karena nihilnya dusta kepada sesama. Indah, bukan?

Kiranya kilasan kehidupan Nabi ini cukup menggambarkan persiapan wadaq Alquran sebagai kitab samawi yang tak lengang di telan zaman. Keseriusan Allah dalam meletakkan Kitab Sucinya sebagai petunjuk bagi umat manusia tak sekadar mengundang decak kagum. Kejelian demi kejelian tak satu pun terlewatkan.

Kalam Allah al-Azali itu melintas melalui Malaikat Jibril, lalu merasuk ke dalam diri Muhammad. Gambaran kedahsyatan saat itu seperti terekam dalam sebuah hadis. Beliau gemetar, menggigil, ketakutan, seakan tak sanggup lagi membedakan antara yang nyata dan tak nyata. Tubuh manusia ditaklukkan kekuatan Mahadahsyat, tapi beliau terus bertahan. Sampai saatnya muncul suara, “Iqra’ ya Muhammad…”Muhamamad menjawab, “maanabi qari`.” Terus berulang hingga tiga kali.

Kita bisa menyaksikan dengan dada keimanan betapa susah dan gelisahnya Nabi ketika hendak menerima lalu melafalkan ayat 1-5 surat al-A’la. Tidak semudah kita membaca saat ini yang, pada akhirnya seringkali tak meninggalkan bekas apa pun dalam diri. Tak ada sisa kecuali lafal-lafal kita menguap. Sementara Nabi berjuang dengan sangat keras. Menggigil, penuh peluh, keringat dingin bercucuran seakan berhadapan dengan maut.

Karena itulah, setiap kalimat Allah yang turun, meski melalui lisan manusia selalu memiliki muatan energi Ilahi. Karena, Nabi bukan manusia biasa, tapi manusia istimewa, yang bahkan dipuji Allah di dalam Alquran sebagai “wainnakala’alakhuluqinazhim (Pemiliki budi pekerti yang paling agung)” Ayat-ayatnya sanggup mengguncang kesadaran seorang sahabat yang paling bengis sekalipun, hingga menjadi kekasih Allah SWT.

Dari sini kita mendapatkan gambaran, kenapa Alquran begitu agung dan mulia dibanding kitab-kitab lain. Keutamaan itu tidak hanya pada dirinya sendiri, tapi setiap detail huruf, ayat, surat, juz, mengandung daya ajaibnya masing-masing. Ada energi spiritual yang melambung, efek yang mampu menggelorakan keimanan para pembacanya. Dan ini membuat pembacanya, meski tidak mengerti maknanya, tapi dibaca dengan penuh keyakinan, maka ia akan menjadi pelipur lara kegelisahannya.Wallahua’lam. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved