Hari Kartini

Sosok Kartini Masa Kini, Inilah Sang Penjaga Hutan Adat di Gunung Kidul

Terhitung sudah belasan tahun, Sri Hartini mengemban tugas sebagai Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi, di Kapanewon Ngawen, Gunung Kidul

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM | Alexander Ermando
Sri Hartini Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul. 

TRIBUNJOGJA.COM - Terhitung sudah belasan tahun, Sri Hartini mengemban tugas sebagai Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi, di Kapanewon Ngawen, Gunung Kidul. Ia memangku tanggung jawab tersebut, meneruskan ayahnya Sudiyo, yang meninggal dunia tahun 2011 silam. Dengan tanggung jawab besar dan tugasnya yang mulia ini tak berlebihan pula lah jika ia disebut sebagai Kartini Masa Kini.

Sri Hartini, Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul.
Sri Hartini, Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul. (TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando)

Awalnya saya ragu, apakah bisa saya menggantikan Bapak. Tapi beliau sendiri yang meminta saya sebelum meninggal," kata warga asli Pedukuhan Duren, Kalurahan Beji, Ngawen, di mana Hutan Wonosadi berada, pada Rabu (20/04/2022).

Ibu 2 anak ini bahkan sempat menolak tawaran tersebut ketika diminta oleh lurah setempat.

Baca juga: Kisah Pilu, Remaja Menangis di Samping Jenazah Ayahnya di Gubuk Reot

Namun akhirnya, ia menyanggupi permintaan tersebut setelah berbagai pertimbangan.

Pertimbangan terkuat keputusan tersebut adalah permintaan ayahnya sendiri.

Sri bahkan menyebut ayahnya sudah membimbing sejak jauh hari, memberinya ilmu hingga seluk-beluk terkait hutan adat tersebut.

Wanita kelahiran 13 Agustus 1968 ini mengaku sudah tidak asing dengan Hutan Wonosadi.

Pasalnya, sejak kecil ia terbiasa menemani ayahnya mengelilingi hutan yang memiliki luas sekitar 25 hektare (ha) itu.

Sri Hartini Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul.
Sri Hartini Ketua Penjaga Hutan Adat Wonosadi di Kapanewon Ngawen, Gunungkidul. (TRIBUNJOGJA.COM | Alexander Ermando)

"Mungkin dari situ Bapak merasa saya cocok menggantikannya sebagai Penjaga Hutan Adat Wonosadi," kata anak ketiga dari 4 bersaudara tersebut.

Namun, tantangan Sri sebagai pengganti ayahnya tak berhenti. Sebab ia sempat menjadi satu-satunya wanita dalam kelompok Jagawana Ngudi Lestari Wonosadi.

Total ada 25 orang dalam kelompok ini, mayoritas pria dan sepuh usianya.

Tapi mantan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini tetap tegar, ia bahkan mampu menarik anggota-anggota baru ke kelompok.

"Salah satunya kepala dusun sini yang juga wanita, itu saya tarik untuk ikut bergabung," ujar Sri.

Ayahnya merintis Hutan Adat Wonosadi ketika kondisinya memprihatinkan, nyaris gundul hanya tersisa 4 Pohon Asem yang tumbuh asli di situ.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved