Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Rekonstruksi Dalam Tata Kehidupan Etis

Cara untuk mewujudkan eudaimonia atau as-sa’adah adalah melalui moral etis dalam kehidupan kolektif. Adapun moral etis tersebut diasah.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Dr H Arif Rohman, Wakil Ketua PWNU DIY 

Pengembangan diri (sel realization) merupakan panggilan jiwa terpenting bagi manusia. Kata Erich Fromm (psikolog), mutu kehidupan diri manusia bukan ditentukan oleh having melainkan oleh being.

Pertanyaannya, bagaimana cara manusia berkembang? Jawabannya adalah apabila ia berani untuk tidak terus berpegang pada diri sendiri saja dan memberanikan diri sepenuhnya pada tugas-tugas dan tanggung jawab untuk orang lain.

Charles Darwin menyebut manusia harus berani melakukan struggle for life. Manusia dapat meningkat bobot nilai dirinya apabila ia berani mengurangi kepentingan dirinya demi memenuhi tugas-tugas sosial yang dipercayakan kepadanya demi kebaikan bagi banyak orang.

Teori ketiga (utilitarisme) meyakini bahwa manusia harus bertindak sedemikian rupa untuk menghasilkan akibat baik setinggi-tinggi dan menghindari akibat buruk serendah-rendahnya. Teori ketiga ini menuding dua teori sebelumnya sebagai teori moral etis yang egois, sedangkan teori ketiga ini menganggap dirinya sebagai teori moral etis universal.

Artinya teori ketiga ini mengaku adanya suatu kewajiban terhadap semua orang secara universal. Utilitarisme menegaskan bahwa dalam segala manusia harus bertindak dengan memperhatikan akibat-akibatnya bagi semua orang baik secara langsung maupun tak langsung.Hal inilah sebenarnya hakekat puasa yakni melatih disiplin dan kesabaran diri.

Dalam Islam, ada 10 hikmah yang dapat diperoleh bagi seseorang yang melakukan puasa, yaitu: pencapaian taqwa, peningkatan kesabaran,pengendalian diri,pengendalian syahwat, ketajaman hati, penguatan dzikir dan fikir,syukur nikmat, sifat kasih sayang dan lemah lembut, terjaga kesehatannya.

Kesepuluh hal tersebut dapat menjadi modal dasar spiritual dan sosial bagi terwujudnya tata kehidupan etis. Semakin banyak manusia yang memiliki modal dasar spiritual dan sosial, maka akan semakin terbuka peluang terbangunnya suatu konstruksi masyarakat menuju tata kehidupan etis. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved