Berita Kota Yogya Hari Ini

Sejarah Gauk Plengkung Gading: Awalnya Dibunyikan untuk Sirine Bahaya, Kini Penanda Buka Puasa 

Sirine atau Gauk Plengkung Gading di Jalan Patehan Kidul Nomor 04, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, sejak 2013 beralih fungsi

TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Rukmana
Beberapa Warga Menantikan Suara Sirine atau Gauk Plengkung Gading di Jalan Patehan Kidul Nomor 04, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/4/2022) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sirine atau gauk Plengkung Gading di Jalan Patehan Kidul Nomor 04, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta , sejak 2013 beralih fungsi sebagai penanda buka puasa , sekaligus peringatan-peringatan hari besar atau hari perjuangan Indonesia. 

Takmir Masjid Nurul Islam, Muhammad Sofyan, mengatakan bentuk gauk Plengkung Gading terdiri atas tiga terompet yang melingkar, tiang gauk terbuat dari logam, dalam pengoperasiannya memerlukan aliran listrik, dan terdapat beberapa komponen lain. 

"Cara menghidupkan gauk tersebut, pertama, akan ada alarm khusus dari Masjid Nurul Islam saat menjelang buka puasa . Kemudian, gauk Plengkung Gading dihidupkan oleh panitia Masjid Nurul Islam yang telah ditugaskan," kata Sofyan, kepada Tribunjogja.com di Masjid Nurul Islam, Selasa (5/4/2022) sore. 

Baca juga: Ini Berbagai Upaya yang Dilakukan Polres Kulon Progo dalam Memberantas Kejahatan Jalanan

Katanya, suara itu dapat mencapai radius satu setengah kilometer.  

Sofyan mengucap, sebelum terdapat gedung-gedung bertingkat di dekat gauk Plengkung Gading, suara gauk dapat mencapai radius lima kilometer. 

Ia menyampaikan, tanggapan dari beberapa warga dekat gauk tersebut, merasa senang terdapat gauk di daerahnya. 

Terkadang beberapa warga di sana mendekati gauk dan menunggu gauk dibunyikan sembari ngabuburit menjelang buka puasa

Sofyan menceritakan, gauk sudah ada sejak 1949. 

Katanya, dahulu gauk merupakan penanda bahaya serangan udara zaman penjajahan Belanda. 

Kemudian, ia menjelaskan, pada 1970-an gauk dipergunakan sebagai penanda setiap memperingati momen perjuangan Indonesia. 

Dia menyampaikan, gauk juga pernah dipergunakan sebagai penanda kegiatan Keraton. 

Kemudian, ia menjelaskan kembali, beberapa tahun berikutnya, gauk difungsikan sebagai penanda buka puasa dan memperingati momen perjuangan Indonesia, seperti Hari Kemerdekaan Indonesia dan Serangan Umum 1 Maret. 

Baca juga: Polsek Bantul Gagalkan Aksi Kelompok Remaja yang Ditengarai Akan Tawuran Perang Sarung

Saat memperingati momen perjuangan Indonesia, sirine akan dihidupkan pukul 10.00 WIB.

Kecuali, saat Serangan Umum 1 Maret, akan dihidupkan pukul 06.00 WIB. 

Walau demikian, Sofyan menyampaikan, beberapa tahun lalu gauk tidak difungsikan sebagai penanda buka puasa

Namun, Sofyan menceritakan, saat 2013, Takmir Masjid Nurul Islam memiliki inisiatif untuk mengaktifkan dan memfungsikan kembali sebagai tanda buka puasa dan terus dipergunakan sebagai memperingati momen perjuangan Indonesia sampai saat ini. (Nei)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved