Hati-Hati di Internet: Dilema Perlindungan Data Pribadi di Era Digital

Website, e-commerce, sosial media, serta perangkat digital lainnya menyimpan, menggunakan, dan menjual data pribadi anda ke pihak lain

OPPO Indonesia
Ilustrasi 

*Oleh: Api Adyantari, S.A., M.B.A., Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta


PERNAHKAN Anda merasa diawasi di internet? Saya sering! Contohnya adalah ketika itu saya ingin membeli kursi, namun saya masih bingung ingin membeli model yang seperti apa. Lalu saya diskusikan hal ini dengan teman untuk mendapatkan saran.

Tak lama kemudian, saya membuka aplikasi Instagram saya dan membuka fitur story. Alangkah kagetnya ketika menerima beberapa story iklan mengenai kursi. Hal serupa juga terjadi saat saya membuka aplikasi e-commerce. Beranda saya dipenuhi rekomendasi toko yang menjual kursi. Padahal saya tidak pernah membeli kursi atau mencari informasi mengenai kursi di browser sebelumnya. Seram bukan? 

Jika anda pernah menonton film The Social Dilemma, Anda pasti paham apa yang terjadi. Website, e-commerce, sosial media, serta perangkat digital lainnya menyimpan, menggunakan, dan menjual data pribadi anda ke pihak lain.

Apapun yang kita baca, lihat, cari, dan beli di internet, semua diawasi, dicatat, dan digunakan oleh mereka untuk memberikan penawaran yang sesuai untuk kita, atau biasa disebut pemasaran tertarget. Inilah mengapa iklan yang mampir ke sosial media atau ponsel kita sangat sesuai dengan kebutuhan kita dan tak jarang membuat kita takut.

Ini artinya data kita menjadi produk bagi mereka, karena mereka dapat menggunakannya atau menjualnya ke pihak lain tanpa sepengetahuan kita. Namun di sisi lain, kita juga sangat terbantu dengan adanya pemasaran tertarget ini. Kita tidak perlu banyak waktu untuk mencari barang yang kita butuhkan, karena penawaran dan rekomendasi barang sangat sesuai.

Pemasaran tertarget ini mengkhawatirkan, namun juga sangat membantu kita. Permasalahannya bukan di praktik yang dilakukan oleh website, aplikasi, dan sosial media ini, namun apa yang harus kita lakukan untuk melindungi data pribadi kita.

Masa pandemi COVID-19 telah mengubah aktivitas masyarakat yang awalnya dilakukan secara luring menjadi daring, tak terkecuali aktivitas berbelanja dan investasi. Kebijakan pemerintah dalam menekan angka penyebaran COVID-19, yakni dengan membatasi mobilitas masyarakat turut meningkatkan jumlah konsumen yang melakukan transaksi online.

Tentu kenaikan ini tidak luput dari risiko penyalahgunaan data konsumen. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), sepanjang tahun 2021 YLKI menerima 535 pengaduan konsumen terkait pelayanan. Mayoritas pengaduan ini terkait dengan pelayanan jasa keuangan, e-commerce dan komunikasi.

Aduan-aduan tersebut juga termasuk aduan mengenai akses data konsumen yang dipakai oleh pinjaman online ilegal untuk meneror kerabat yang tercantum dalam kontak konsumen dalam proses penagihan utang. Risiko lainnya adalah peretasan data milik pengguna seperti yang dialami sejumlah e-commerce di Indonesia, salah satunya adalah Tokopedia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved