Sobat Filosofia

Kriwikan Dadi Grojogan

Berawal dari problem identitas kultural yang sesungguhnya tak pernah solid dipaksa solid yang akhirnya memecah identitas kultural

AFP via tribunnews
Ilustrasi: Prajurit Ukraina membawa mayat seorang kawan di atas tandu di kota Irpin, barat laut Kyiv, pada 13 Maret 2022. 

*Oleh: Dr. Sindung Tjahyadi, Dosen Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta

Dr. Sindung Tjahyadi, Dosen Fakultas Filsafat UGM
Dr. Sindung Tjahyadi, Dosen Fakultas Filsafat UGM (Ist)

 

MANUSIA tidak pernah terlepas dari krisis. Baik menyangkut krisis pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan ras manusia. Terjadi krisis bila ada keadaan yang mengancam keberlangsungan identitas, keterancaman pemenuhan kebutuhan dasar hidup, dan kondisi-kondisi yang menggerus kemanusiaan. Orang jawa menyatakan “kriwikan dadi grojogan”. 

Persoalan yang “kecil” jika tak tertangani secara baik akan berubah menjadi “banjir bandang”. Krisis Ukraina dapat menjadi contoh gambaran dari masalah di “halaman rumah” menjadi “masalah sekampung” dan bahkan “masalah sejagad”. 

Berawal dari problem identitas kultural yang sesungguhnya tak pernah solid dipaksa solid yang akhirnya memecah identitas kultural antara Ukraina Barat yang dekat dengan Eropa, dan Ukraina Timur yang dekat dengan Rusia

Berkelindan dengan soal identitas budaya, ada kepentingan politik maupun ekonomi di dalam dan di luar negeri yang memperumit krisis yang tak jua terselesaikan sejak 2008. Akhirnya krisis meledak menjadi invasi militer yang memicu krisis kemanusiaan, krisis ekonomi dunia karena saling ancam dan sanksi ekonomi, dan akhirnya berimbas kepada krisis menyangkut hajat hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan warga dunia yang secara geografis jauh dari Ukraina

Dampak krisis dunia bagi kita? Sangat tergantung kepada “kesehatan” kita sebagai bangsa. Jika kohesi sosial kita cukup baik, solidaritas kita cukup kuat, dan semangat mempertahankan capaian kita cukup besar, maka “imunitas” kita terhadap krisis dunia akan relatif tinggi, dan Indonesia relatif dapat bertahan dari krisis yang mau tidak mau juga akan sampai pada kita. 

Boleh dikatakan sesungguhnya saat ini kita sudah berada di ujungnya, terlebih jika eskalasi sanksi dan blokir asset-aset ekonomi antar berbagai pihak yang berperang tak jua usai. Kenaikan bahan bakar fosil sudah dirasakan masyarakat Eropa dan beberapa agenda program ruang angkasa menjadi tertunda. Jaringan internet yang relatif dikuasai oleh Amerika juga mulai menutup akses untuk pihak-pihak lawan. 

Dalil bahwa “aset ekonomi bersifat netral”, sudah gugur dan ke depan tentu sulit dibangun kepercayaan publik bahwa usaha dan bisnisnya tidak bisa diikutkan menanggung “putusan politik” dari negara asal bisnis tersebut. Padahal fakta ekonomi dewasa ini bersifat global, mata rantai produksi-konsumsi melibatkan berbagai negara terlepas dari sikap dan orientasi politik negara mereka. 

Tidak mungkin negara mengisolasi diri dari dinamika politik dan ekonomi global. Kita tentu tidak berharap krisis akan semakin parah, namun agaknya saat ini momentum yang baik untuk membangun kesadaran pentingnya kemandirian sebagai individu, masyarakat, bangsa dan negara. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved