Beda Paracetamol dan Ibuprofen, Jangan Sampai Tertukar!

Paracetamol dan ibuprofen kiranya menjadi dua jenis obat penghilang rasa sakit dan penurun panas tanpa resep yang paling umum digunakan

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
net
paracetamol 

Hal itu dilakukan sampai suhu turun dengan sendirinya dan tidak perlu diberikan obat penurun panas.

Baca juga: Gejala-gejala Batu Ginjal yang Perlu Diketahui : Dari Air Kencing yang Keruh, Demam, Hingga Mual

Perbedaan Paracetamol dan Ibuprofen

Paracetamol dan ibuprofen menjadi dua jenis obat penghilang rasa sakit dan penurun panas tanpa resep yang paling umum digunakan selama ini, terutama pada anak-anak.

Meski cenderung memiliki manfaat yang sama, paracetamol dan ibuprofen tetap saja adalah dua jenis obat yang berbeda, sehingga tak boleh digunakan secara acak atau sembarangan.

Paracetamol dan ibuprofen berbeda dalam bagaimana mereka bekerja, seberapa cepat bekerja, berapa lama bertahan di dalam tubuh, termasuk risiko atau efek samping terhadap tubuh.

Jadi, mana yang lebih baik, paracetamol dan ibuprofen untuk mengatasi demam?

Melansir Buku Obat Sehari-hari (2014) oleh M. Sholekhudin, jika memang obat penurun panas diperlukan, obat pilihan utama yang dianjurkan adalah paracetamol.

Dibandingkan dengan obat penurun panas lainnya, termasuk ibuprofen, paracetamol paling aman asalkan digunakan dengan dosis normal dan tidak dalam jangka panjang.

Jika pasien tidak bisa menelan obat, mereka bisa menggunakan paracetamol dalam bentuk supositoria yang dimasukkan ke dalam dubur.

Baca juga: Cara Alami Atasi Flu dan Demam pada Anak-anak

Sementara itu, hati-hati dalam menggunakan obat tetes paracetamol. Baca betul aturan pakainya sebelum digunakan. Pada saat meneteskan ke mulut bayi terutama, pastikan betul volume obat sudah tepat untuk menghindari risiko overdosis.

Pasalnya, obat tetes mengandung paracetamol pada umumnya dalam konsentrasi yang tinggi.

Kesalahan volume sebesar 0,3 ml saja bisa menyebabkan anak minum paracetamol 30 mg lebih banyak.

Overdosis paracetamol bisa menyebabkan masalah di lever atau hati.

Risiko overdosis harus diwaspadai mengingat aturan pakai obat-obatan di Indonesia biasanya didasarkan pada umur, bukan berat badan.

Padahal, yang lebih tepat seharusnya didasarkan pada umur dan berat badan juga.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved