Penyelidikan Kasus Kematian Tangmo Nida : Manajer Dituding Telah Berdusta

Manajer bernama Idsarin "Gatick'' Juthasuksawat, dituding telah memutarbalikan fakta mengenai penyebab kematian Tangmo Nida.

Tayang:
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
The Bangkok Post
Kerabat melakukan doa di tepi Sungai Chao Phraya tempat meninggalnya aktris Tangmo Nida 

TRIBUNJOGJA.COM - Manajer mendiang Tangmo Nida (37) dituding telah berdusta saat memberikan keterangan kepada polisi. Manajer bernama Idsarin "Gatick'' Juthasuksawat itu, dituding telah memutarbalikan fakta mengenai penyebab kematian Tangmo Nida.

Hal itu disampaikan seorang teman dekat Tangmo Nida, Surattanawee “Bow TK” Suviporn saat memberi keterangan kepada penyidik kepolisian, pada Kamis (3/3/2022).

Sebagai informasi, Tangmo Nida menghilang dari speedboat yang dia tumpangi bersama sekelompok temannya di Sungai Chao Phraya pada Kamis malam pekan lalu.

Selanjutnya, Tangmo Nida ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan luka di bagian paha.

Kepolisian Thailand terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap peristiwa kematian Tangmo Nida
Kepolisian Thailand terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap peristiwa kematian Tangmo Nida (The Bangkok Post)

Surattanawee kemudian mengungkap informasi pertemuannya dengan manajer Tangmo Nida, yang merupakan salah satu dari lima orang yang ada di speedboat bersama Tangmo Nida.

Dirinya bertemu Idsarin di NBC Boat Club, di mana speedboat disimpan di distrik Muang, provinsi Nonthaburi setelah kematian Tangmo Nida.

Surattanawee mengatakan dia baru bisa memberikan keterangan, lantaran ia sebenarnya ingin mendengar terlebih dahulu keterangan dari Idsarin.

Setelah itu, Surattanawee menyebutkan bahwa keterangan Idsarin sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada di lapangan.

Surattanawee mengatakan dia yakin fakta seputar tragedi itu telah diputarbalikkan.

Dia tiba di klub perahu, tempat speedboat diparkir, sekitar tengah malam hari itu. Semua orang tampak dalam keadaan shock.

Kemudian dia menemani Idsarin ke kantor polisi di mana dia memberikan pernyataan, dan kemudian mengantar manajer bintang itu ke rumahnya.

Surattanawee mengatakan sangat marah setelah mendengar apa yang dikatakan manajer Tangmo tentang insiden tersebut.

Sadar akan hal itu, Idsarin kemudian menghubungi Surattanawee melalui telepon dan meminta maaf karena telah menyebabkan masalah.

Diberitakan sebelumnya, Tangmo Nida adalah satu dari enam orang di speedboat, yang melakukan perjalanan dari Jembatan Krung Thon di Bangkok ke Jembatan Rama VII di Nonthaburi.

Dia dilaporkan terjatuh dari kapal sekitar pukul 10 malam pada 24 Februari di dekat dermaga Pibul 1 di Nonthaburi.

Tim penyelamat menemukan tubuh aktris itu di dekat dermaga di Nonthaburi pada 26 Februari, atau dua hari setelah dilaporkan hilang.

Polisi mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah menanyai delapan saksi lagi dalam penyelidikan kematiannya.

Polisi belum mengetahui dengan tepat mengapa dia jatuh dari kapal, kata Letjen Pol Jirapat Phumjit, komisaris Polda Daerah 1.

Hanya dua orang di speedboat yang telah dijadikan tersangka sejauh ini, tambahnya.

Lima pendamping Tangmo adalah manajernya Idsarin, Wisapat Manomairat, Nitas Kiratisoothisathorn, pemilik perahu Tanupat; dan Phaiboon "Robert" Trikanjananun.

Tanupat dan Phaiboon telah didakwa mengoperasikan kapal tanpa izin dan kelalaian yang menyebabkan kematian.

Menurut penyelidikan awal, Phaiboon sedang mengoperasikan speedboat ketika Tangmo jatuh ke laut, kata Letnan Jenderal Pol Jirapat.

Polisi sediliki percakapan telepon

Bukti baru muncul saat Technology Crime Suppression Division (TCSD) menelusuri telepon Tanupat dan menemukan bahwa dia telah mengakui kepada salah satu dari beberapa orang yang dia konsultasikan melalui telepon bahwa Phaiboon sedang mengemudikan speedboat ketika Nida jatuh. Demikian sebagaimana informasi dari sumber di Kepolisian Daerah 1 mengatakan pada hari Rabu.

Karena kurangnya pengalaman dalam manuver perahu, Phaiboon dilaporkan kehilangan kendali.

Akibatnya Tangmo Nida yang berada di belakang perahu limbung hendak jatuh. Ia kemudian memegang tangan Wisapat karena takut dia akan jatuh ke sungai, kata sumber tersebut.

Polisi akan memanggil kelimanya untuk menghadapi tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian dan memberikan pernyataan palsu kepada penyelidik.

Sumber lain yang merupakan anggota tim Polda 1 yang menyelidiki kasus Nida mengatakan, Nitas telah memberikan pernyataan yang bertentangan tentang bagaimana kapal itu dioperasikan malam itu.

Dia adalah satu-satunya saksi yang memberi tahu penyidik ​​bahwa perahu tiba-tiba tersentak sehingga menyebabkan Nida jatuh ke sungai.

Sementara Phaiboon adalah satu-satunya yang gagal menghadiri rekonstruksi polisi insiden Kamis malam, menggunakan speedboat dari model yang sama. Ia mengaku menderita tekanan darah tinggi.

Dalam rekonstruksi lain, polisi berencana untuk mengambil perahu yang sama persis di sungai untuk mensimulasikan perjalanan dengan cara yang persis sama seperti yang terjadi malam itu.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan catatan GPS di perahu, kata Letnan Jenderal Pol Jirapat Phumjit, kepala Kepolisian Daerah Provinsi 1.

Kapal akan berjalan pada kecepatan yang sama dan pada jalur yang sama seperti yang terjadi malam itu, dan para penyelidik akan menguji klaim oleh mereka yang berada di atas kapal bahwa mereka tidak mendengar suara apapun ketika Nida jatuh ke laut.

Selain itu polisi juga mengumpulkan lebih banyak tes DNA dari sampel yang dikumpulkan di atas kapal. Ini kemudian akan segera diserahkan kepada penyelidik dan lebih banyak saksi akan ditanyai selain 12 yang sudah diinterogasi.

Catatan sambungan telepon keenam orang di atas kapal juga telah dikirim ke TCSD untuk menemukan lebih banyak petunjuk.

Ancaman penyebar foto jenazah Tangmo Nida

Sementara itu, Kepolisian Thailand memperingatakan warga agar tidak ikut menyebarkan foto jenazah Tangmo Nida.

Berdasarkan hukum yang berlaku di Thailand, penyebar foto jenazah aktris bernama lengkap Nida Patcharaveerapong ini bisa diancam hukuman penjara selama 3 bulan atau denda Rp 2,2 juta. (*/Bangkok Post)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved