Berita Kota Yogya Hari Ini

Libur Panjang Isra Miraj , Okupansi Hotel di Yogyakarta Tidak Meningkat Signifikan 

Libur Panjang Isra Miraj yang berlangsung selama 26-28 Februari rupanya belum mampu memberikan dampak signifikan bagi tingkat okupansi

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
ilustrasi Hotel 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Libur Panjang Isra Miraj yang berlangsung selama 26-28 Februari rupanya belum mampu memberikan dampak signifikan bagi tingkat okupansi perhotelan di DI Yogyakarta.

Masih melonjaknya kasus Covid-19 , serta penerapan PPKM Level 3, disebut jadi kendala. 

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DI Yogyakarta , Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pihaknya mematok target 60 persen kamar bisa terisi, dari total 50 persen kapasitas yang dioperasionalkan selaras dengan aturan PPKM Level 3 yang kini berlaku di DIY. 

Baca juga: Menikmati Wajah Baru Malioboro Kota Yogyakarta, Wisatawan: Lebih Rapi dan Indah 

"Tapi, lonjakan okupansi ternyata tak terjadi. Cuma sedikit peningkatannya, dari rata-rata 20-30 persen, Sabtu dan Minggu, 27-28 Fabruari itu, naik jadi 40-50 persen," tandasnya, Senin (28/2/2022). 

Peningkatan itu, katanya, hanya bertahan dua hari saja, mengingat pada Senin (28/2/2022), tingkat okupansi langsung menukik hingga 30 persen lagi.

Hanya saja, bagaimanapun, kalangannya tetap bersyukur, karena geliat wisatawan mulai tampak meski belum seoptimal masa normal. 

"Target kita rata-rata 60 persen memang belum tercapai. Tapi, kita tetap syukuri itu, karena reservasi sejak Kamis kan masih 20 persen, tapi ternyata banyak yang walk-in guest (datang langsung)," terang Deddy. 

Ia meyakini, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di hampir seluruh daerah di tanah air, membuat kunjungan wisatawan urung meroket meski ada momentum Libur Panjang .

Bukan tanpa alasan, beberapa hotel pun melaporkan, banyak pelancong yang harus menunda perjalanannya. 

"Pembatasan memang tidak ada, tapi masih ramai Omicron. Banyak yang sudah mau datang, tapi setelah antigen, atau PCR, ternyata positif, jadi kunjungannya harus ditunda, rata-rata seperti itu," keluhnya. 

Baca juga: Tantangan Besar Mataram Utama FC di Babak 16 Besar, Melawan Tiga Klub Bersejarah

"Makanya, sekarang wisatawan dari Jakarta juga tidak terlalu mendominasi, turun cukup banyak itu, mungkin karena kasus disana juga tinggi, ya. Mayoritas yang datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur," lanjut Deddy. 

Lebih lanjut, PHRI pun berharap, supaya tingkat PPKM di Yogyakarta bisa kembali turun ke level dua. Sehingga, para penyedia jasa akomodasi dapat lebih leluasa lagi, dalam mengoperasionalkan unit usahanya. 

"Masalah okupansi kan juga tergantung level PPKM. Kita berharap, segera turun ke level dua. Karena sekarang kamar yang bisa dioperasikan cuma 50 persen," pungkasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved