Flexing dan Bisnis : Satu Sisi

orang-orang yang menonton melalui media sosial akan berprasangka mereka benar-benar kaya walau realitanya tidaklah demikian

Flexing dan Bisnis : Satu Sisi
Ist
Hansiadi Yuli Hartanto, Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma

*Oleh: Hansiadi Yuli Hartanto, Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma

PENGGUNAAN media sosial yang cukup masif memang terkadang membuat orang merasa iri atau cemburu melihat foto-foto wisata, makanan enak, dan kehidupan mewah orang lain.

Namun terkadang apa yang kita lihat di media sosial tidak menggambarkan kehidupan yang sebenarnya.

Akibat dari tren ajang pamer ini, maka flexing pun menjadi kata populer dan menjadi istilah gaul anak zaman sekarang untuk orang yang suka pamer.

Bisa dikatakan saat ini kita hidup di era flexing. Chanel youtube  dari  Prof. Rhenal Kasali ( link https://www.youtube.com/watch?v=P8nqLYg8G1Q) telah berbicara tentang fenomena ini.

Flexing, pengertian secara umum dalam channel ini, merupakan kata yang memiliki arti gemar pamer kekayaan kepada orang lain untuk bersombong  diri.

Harapannya, orang-orang yang menonton melalui media sosial akan berprasangka mereka benar-benar kaya walau realitanya tidaklah demikian. Tidak heran jika perilaku ini dianggap sebagai perilaku palsu.

Seringkali kita temui orang memamerkan barang-barang mewah seperti rumah, mobil, perhiasan yang dipakai, dan pakaian bermerk.

Mereka juga seringkali memamerkan tempat wisata mewah maupun restoran mewah yang dikunjungi. Mungkin bagi sebagian orang akan merasa jengah melihat ajang pamer ini.

Namun harus diakui, para penonton media sosial dengan flexing  ini terhitung besar.

Selain itu, terjadi pula komunikasi diantara para viewer (penonton) mulai dari yang memuji atau pun yang menyatakan ketidaksetujuannya. Komunikasi ini disadari atau tidak menambah popularitas si pemilik akun. Tidak heran jika lama kelamaan, perilaku ini terkesan  lumrah. 

Flexing telah bergeser fungsinya lebih dari sekedar pamer. Flexing telah  dengan cerdik digunakan untuk marketing. Secara langsung ataupun tidak, perilaku ini bisa mendorong persepsi orang (penonton) bahwa orang yang bersangkutan memiliki bisnis yang baik orang sehingga dapat pula membangun motivasi agar para penonton mengikuti bisnis seperti orang tersebut.

Pencitraan memang dibutuhkan dalam bisnis agar mendorong kepercayaan. Namun pada pencitraan yang palsu, akan menimbulkan masalah.

Salah satu contoh, Rhenald Kasali  pada link di atas juga menyinggung hal ini, yakni kasus First Travel (FT). Kasus ini memang cukup menghebohkan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved