Lebih Dekat Dengan Malioboro dan Melihat Penataan PKL

Kisah tentang Malioboro tidak akan pernah habis digali. Segalanya ada di kawasan ternama di Yogyakarta ini.

Editor: ribut raharjo
ist
Jalan Malioboro 

TRIBUNJOGJA.COM - Kisah tentang Malioboro tidak akan pernah habis digali. Segalanya ada di kawasan ternama di Yogyakarta ini.

Malioboro merupakan salah satu kawasan wisata di pusat Kota Yogyakarta. Dilansir dari laman arsipdanperustakaan.jogjakarta.go.id, Malioboro adalah salah satu dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta ke perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta.

Kabarnya, nama Malioboro diambil dari bahasa Sansakerta "Malyabhara" yang berarti karangan bunga.

Namun ada juga beberapa ahli menyebut bahwa nama Malioboro berasal dari nama seorang kolonial Inggris bernama Marlborough yang pernah tinggal di Yogyakarta pada tahun 1811 - 1816 M.

Malioboro dibangun pada awal abad ke-19 dan didesain sebagai kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan. Malioboro sudah terkenal sejak era kolonial (1790-1945).

Malioboro menjadi daya tarik wisatawan karena merupakan area wisata kuliner dan belanja.

Kawasan itu menjadi tempat penjualan makanan khas Yogyakarta. Seperti gudeg, pecel dan makanan lainnya.

Waktu yang tepat menikmati kuliner di kawasan Malioboro adalah pada malam hari. Di sana juga banyak pengamen yang antre untuk "konser" di hadapan para wisatawan yang menikmati kuliner khas Yogyakarta.

Selain kuliner, barang lain yang dijual di Malioboro adalah baju, batik, kerajinan, aksesoris serta pernak-pernik khas Yogyakarta yang biasa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Menurut laman arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id, salah satu cara berbelanja di Malioboro adalah dengan proses tawar menawar. Itu menjadi salah satu khas transaksi di sana. Wisatawan bisa mendapatkan harga terbaik dari hasil tawar menawar itu.

Namun seiring berjalannya waktu, wajah Malioboro terus berubah. Mulai dari penataan parkir hingga penataan pedagang kaki lima atau PKL.

Mulai 1 Februari 2022, PKL di Malioboro akan boyongan ke Teras Maioboro dan Teras Malioboro II.

Mereka sudah disiapkan lapak-lapak. Tidak sedikit pedagang yang keberatan, namun penataan berupa relokasi itu tetap akan berlangsung.

Menurut Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, upaya penataan perlu dilakukan karena selasar Malioboro seharusnya memang bukan untuk PKL berjualan.

Selasar atau lorong-lorong pertokoan sebenarnya milik Pemda DIY dan pemilik toko. Bahkan Sultan mengaku sudah menunggu 18 tahun untuk menantikan penataan ini.

Kawasan Malioboro akan menjadi tempat memanjakan para pejalan khaki dan menjadi warisan budaya dunia. Meski demikian, wisatawan tetap bisa menikmati belanja dan makan di Malioboro yang dipusatkan di Teras Malioboro dan Teras Malioboro II.

Teras Malioboro, Rabu (26/1/2022) diresmikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Gedung bertingkat tiga itu menjadi tempat baru bagi PKL yang sebelumnya menggelar dagangannya di lorong pertokoan di Malioboro.

Sebelum peresemian, Raja Keraton Yogyakarta ini sempat menggelar wilujengan atau syukuran bersama dengan perwakilan PKL dan sejumlah pejabat Forkompimda. (Tribun Jogja/Kompas.com)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved