Guru Besar Psikologi UGM Sebut Problematika Anak Keluarga Marginal Bukan Hanya Ekonomi

Masalah pendidikan untuk anak-anak yang berasal dari kaum marginal justru tidak bisa dibilang berawal dari perekonomian keluarga.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
ilustrasi berita pendidikan 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masalah pendidikan untuk anak-anak yang berasal dari kaum marginal justru tidak bisa dibilang berawal dari perekonomian keluarga.

Ketua Komunitas Sekolah Marginal (KSM), Efan, mengatakan banyak dari mereka yang memilih putus sekolah lantaran tak bisa mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan.

Ada juga yang tidak naik kelas beberapa kali, akhirnya dikeluarkan dari sekolah.

Baca juga: Cerita Komunitas Sekolah Marginal Beri Pendidikan untuk Anak Pemulung di Daerah Kledokan Sleman

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Drs Koentjoro MBSc PhD menekankan hal yang serupa.

Problematika anak dari keluarga marginal bukan hanya tentang perekonomian. Sebab, para orang tua dari kelompok tersebut sebenarnya tidak kekurangan pendapatan.

Bahkan, Prof Koentjoro meminta agar masyarakat tidak menganggap remeh pemulung yang bisa disebut sebagai pahlawan lingkungan.

“Sebelum saya jelaskan, saya mau bilang, pemulung itu pahlawan bagi lingkungan kita. Mereka mengambil botol minuman atau plastik yang kita diamkan, yang kita anggap sebagai sumber penyakit,” bukanya kepada Tribun Jogja melalui sambungan telepon, Sabtu (22/1/2022).

Ia mengatakan, anak dari masyarakat terpinggirkan enggan untuk melanjutkan pendidikan lantaran mereka memiliki superego yang memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Pengamatan ini tidak sembarangan karena Prof Koentjoro pernah menangani permasalahan pemulung di tahun 1989-1992 dan 1998.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved