Breaking News:

Berita Bencana Alam

Laporan BPBD Magelang : Tanah Longsor Jadi Bencana Paling Banyak yang Terjadi di Kabupaten Magelang

Total bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Magelang sepanjang 2021 tercatat ada 574 kejadian, dan didominasi tanah longsor

Dok BPBD Kabupaten Magelang
Petugas sedang membersihkan material longsor di di Dusun Kebonwage, Desa Ngepanrejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Selasa (11/01/2022) malam. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menyampaikan laporan terkait peristiwa bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut sepanjang 2021.

Berdasarkan laporan BPBD, bencana alam berupa tanah longsor tercatat menjadi bencana yang paling banyak terjadi di wilayah Kabupaten Magelang.

Total bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Magelang sepanjang 2021 tercatat ada 574 kejadian.

Masih menurut catatan BPBD dari rentetan bencana alam yang terjadi , terdapat enam korban jiwa pada peristiwa tersebut sepanjang 2021. 

Penampakan rumah warga yang rusak  rusak akibat tanah longsor di Desa Dlimas, Kec Tegalrejo, Kab Magelang, Selasa (28/12/2021)
Penampakan rumah warga yang rusak rusak akibat tanah longsor di Desa Dlimas, Kec Tegalrejo, Kab Magelang, Selasa (28/12/2021) (Dokumentasi BPBD Magelang)

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Warsono, menuturkan jumlah tersebut berdasarkan pendataan mulai Januari 2021 hingga awal Januari 2022.

"Kejadian bencana terbesar adalah tanah longsor sekitar 200-an. Kemudian disusul angin kencang dan kebakaran. Sedangkan kekeringan sudah teratasi. Sedangkan, bencana yang memakan korban jiwa berlokasi di penambangan pasir dan area Merapi," ucapnya pada¬† Rabu (12/01/2022).

Adapun dari total 21 kecamatan di Kabupaten Magelang yang memiliki potensi bencana alam kategori tanah longsor terdapat di Kecamatan Windusari, Kaliangkrik, Kajoran, Dukun Tegalrejo, Secang dan Pakis.

Sedangkan kejadian bencana alam berupa angin kencang, kebanyakan terjadi di Kecamatan Tegalrejo, Mertoyudan, Windusari, Dukun dan Secang.

"Ini merupakan (wilayah) langganan. Sehingga kami pesan untuk masyarakat untuk mempelajari kearifan lokal. Ilmu 'titen' harus selalu kita pakai. Seperti, angin kencang misalnya dia akan tetap melewati jalur yang sama," terangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved