Breaking News:

Vaksinasi Booster COVID-19 di Gunungkidul Tunggu Juknis dari Pusat

Meski demikian, Kabupaten Gunungkidul dipastikan belum memulai pelaksanaan vaksinasi booster.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
VeryWellHealth
Ilustrasi vaksin booster 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Pemberian vaksin COVID-19 booster dijadwalkan akan dimulai pada Rabu (12/01/2022) besok.

Adapun pelaksanaannya mengikuti instruksi dari pemerintah pusat yang disampaikan beberapa waktu lalu.

Meski demikian, Kabupaten Gunungkidul dipastikan belum memulai pelaksanaan vaksinasi booster.

Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Abdul Azis.

"Kami belum akan melakukan vaksinasi booster besok," kata Azis lewat pesan singkat pada Selasa (11/01/2022) malam.

Belum dimulainya vaksinasi booster ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Antara lain belum adanya petunjuk teknis (juknis) dari provinsi, dalam hal ini Dinkes DIY.

Azis menyatakan hingga kini pihaknya masih menunggu info teknis tersebut. Bahkan hingga malam ini, koordinasi dengan Dinkes DIY terkait teknis vaksinasi booster ini masih dilakukan.

"Saat ini masih sedang rapat koordinasi (rakor) secara virtual," ungkapnya.

Baca juga: Pemkab Magelang Targetkan Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun Rampung Akhir Januari

Baca juga: Kick Off Vaksin Booster di Sleman Dilaksanakan di Ngaglik, Dimulai Besok

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty sebelumnya juga mengatakan masih menunggu juknis terkait pemberian vaksin COVID-19 booster. Pihaknya pun terus berkomunikasi dengan Dinkes DIY.

Adapun Gunungkidul masih berfokus pada penyelesaian vaksinasi COVID-19 pada kelompok umur 6-11 tahun. Hingga kini, pelaksanaannya masih terus berjalan.

"Sudah 30,7 persen, berjalan terus hingga akhir Januari ini selesai untuk dosis 1," kata Dewi ditemui pagi tadi.

Sejauh ini, pihaknya belum mendapat penolakan baik dari pelajar maupun wali terkait vaksinasi COVID-19 bagi anak 6-11 tahun ini.

Adapun beberapa hanya menunda vaksinasi karena sejumlah kondisi, seperti baru sakit dan sebagainya.

Dewi juga menyatakan sejauh ini efek KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada kelompok anak 6-11 tahun bersifat ringan. Adapun untuk gejala berat dilaporkan ke Komisi Daerah Lansia (KOMDA) DIY untuk dikaji lebih lanjut.

"Setelah dicek KOMDA DIY, gejala berat yang muncul bukan terkait vaksin," jelasnya. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved