Penanganan Awal Trauma Pasca Bencana dari Aspek Psikologi

Krisis yang dimaksud dalam situasi bencana, ataupun krisis karena seseorang sedang mengalami perasaan yang kacau

Penanganan Awal Trauma Pasca Bencana dari Aspek Psikologi
Ist
Zahro Varisna Rohmadani, S.Psi, M.Psi, Dosen Program Studi Psikologi, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

*Oleh: Zahro Varisna Rohmadani, S.Psi, M.Psi, Dosen Program Studi Psikologi, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

SITUASI krisis seringkali kita alami sebagai seorang manusia. Krisis yang dimaksud dalam situasi bencana, ataupun krisis karena seseorang sedang mengalami perasaan yang kacau.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami stress atau mungkin hal yang kurang nyaman, mungkin karena konflik dengan orang lain ataupun karena berkonflik dengan diri sendiri karena pengalaman trauma di masa lalu.

Dalam situasi bencana, misalnya bencana alam yang beberapa kali melanda Indonesia ini, sebagai seorang yang memiliki panggilan ke arah kemanusiaan tentu kita terpanggil ingin hadir langsung ke daerah bencana tersebut. Tetapi kadang banyak hal yang membuat kita tidak bisa hadir ke sana secara langsung, dan memang tidak mungkin semua orang harus hadir disana.

Tentu kita bisa membantu sebisanya meskipun dari jauh, contoh konkritnya yaitu dengan melakukan penggalangan dana ataupun memberikan pembekalan virtual (dengan media synchronous (misalnya zoom, gmeet atau yang lain) maupun media asynchronous yang berisikan mengenai hal-hal yang diperlukan bagi seorang relawan serta penguatan agar calon relawan menjadi seorang yang yakin dapat memberikan yang terbaik bagi survivor (penyintas / orang yang menjadi korban) bencana. 

Salah satu hal yang penting dan tidak boleh terlupakan dalam penanganan bencana yaitu penanganan secara psikis yang mana seorang yang fisiknya sudah terselamatkan, terkadang pada psikisnya bisa jadi belum tentu terjaga kesehatannya.

Hal inilah yang kemudian menjadikan munculnya kata Psychological First Aid atau penanganan pertama psikologis, dan biasa disingkat PFA.

PFA biasanya diartikan sebagai tindakan pertama yang dilakukan dalam durasi waktu yang singkat kepada seseorang yang baru saja mengalami bencana, krisis maupun keadaan darurat.

Sifat PFA yang dapat dipelajari, bersifat umum dan sederhana serta bukan merupakan tindakan professional, menjadikannya bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya kaum yang terdidik yang memang ahli di bidangnya. 

PFA bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak dasar, mengurangi tingkat stress yang dialami oleh seseorang serta dapat memperkuat daya adaptasi alami. Hal tersebut dapat mencegah dampak gangguan yang lebih parah serta membantu proses pemulihan alami.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved