Gunung Merapi

Inilah Permodelan Awan Panas Guguran Gunung Merapi Jika Kubah Lava Runtuh Masif

Agus Budi Santoso: “Sampai saat ini kan kami pantau terus, yang namanya ilmu manusia kan kita terbatas. Kejadian yang mungkin terjadi kami skenariokan

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Google
Penampakan Gunung Merapi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan jarak luncur awan panas Gunung Merapi tidak lebih dari lima kilometer.

Pada periode 3 hingga 9 September 2021, tercatat ada empat kali awan panas guguran ke Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.200 meter.

Guguran lava sebanyak 190 kali ke arah barat daya dominan Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.

Awan panas guguran terakhir tercatat pada Minggu (12/12/2021). Tercatat awan panas terjadi pukul 10.18 dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter ke arah barat daya.

Kepala Seksi (Kasi) Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso mengatakan, berdasarkan permodelan saat ini, jika kubah lava runtuh semua secara masif, jarak luncur awan panas tidak lebih dari lima kilometer. Artinya guguran tersebut tidak akan sampai ke permukiman penduduk.

"Saat ini kubah lava barat daya 1,6 juta meter kubik, tengah 3 juta meter kubik. Berdasarkan permodelan sekarang, kalau kubah lava runtuh secara masif itu (luncuran awan panas) tidak lebih dari lima kilometer. Saat ini kan masih gripil-gripil," katanya, Senin (13/12/2021).

"Tidak sampai ke penduduk. Sampai saat ini kan kami pantau terus, yang namanya ilmu manusia kan kita terbatas. Kejadian yang mungkin terjadi kami skenariokan. Untuk luncuran 3 juta itu memang tidak sampai lima kilometer, tetapi harus kita update terus kareana kondisi topografinya berubah dengan adanya erupsi," sambungnya.

Agus mengungkapkan pihaknya selalu melakukan pemantauan kubah lava.

Untuk pemantauan BPPTKG rutin menerbangkan drone dan memantau kamera pengawas. Ada 34 kamera pengawas yang selalu memantau aktivitas Gunung Merapi.

Menurut pemantauannya, kubah lava Gunung Merapi relatif stabil.

Meski pun terjadi hujan di puncak Merapi, namun saat ini belum memengaruhi kubah lava. Kendati demikian, hujan juga bisa berpengaruh pada kestabilan pertumbuhan kubah lava dari faktor eksternal.

"Banyak, ya, yang mempengaruhi. Pertama volumenya, geometrinya sendiri, sifat magmanya, tekanan dari dalam, kemudian faktor eksternal seperti cuaca, banyak faktor, ya. Hujan, iya (berpengaruh), tetapi berdasarkan analisi kami masih stabil," ungkapnya.

Menjadi yang terpenting, tambah Agus, adalah penilaian bahayanya. Sehingga segala risiko sudah diantisipasi, masyarakat pun tidak perlu menunggu sirine dan peringatan dini.

"Kami bisa memprediksi atau memberikan peringatan akan meluncur. Tetapi lebih penting penilaian bahayanya itu. Sehingga kalau meluncur tiba-tiba sudah ada perkiraan sejauh mana, itu yang perlu diantisipasi," imbuhnya.

Suraji, satu di antara petugas yang melakukan pengamatan Gunung Merapi di Pos Kaliurang menjelaskan, pihaknya terus fokus melakukan pengamatan semua data Merapi. Seperti terjadinya vulkanik dangkal dan vulkanik dalam, guguran, serta hembusan. Termasuk deformasi atau perubahan bentuk gunung.

Setiap malam, 15 petugas dari beberapa pos secara bergiliran melakukan pengamatan deformasi mengunakan metode Electronics Distance Measurement (EDM). Saat ini, aktivitas gunung Merapi dinilai masih fluktuatif. Kubah lava mengalami pertumbuhan, tetapi masih landai, belum signifikan.

Kendati demikian, kesiapsiagaan tetap harus dilakukan. Sebab, segala kemungkinan secara tiba-tiba bisa saja terjadi karena gejolak lain. Misalnya, magma yang bisa saja tiba-tiba naik ke permukaan dan menghancurkan kubah di bagian atas.

Bertumbuh

Mantan Kepala BPPTKG, Subandrio membenarkan kubah lava saat ini masih terus bertumbuh.

“Bahkan, volume totalnya mencapat 4,5 juta meter kubik. Untuk kubik tengah awalnya 2,9 juta meter kubik dan kubah tepi 1,6 juta meter kubik,” jelanya kepada Tribun Jogja, Senin (13/12/2021).

Dia mengatakan, guguran lava yang sering terjadi setiap hari umumnya berasal dari kubah di tepi di hulu Kali Krasak atau Bebeng dan Kali Putih. Guguran lava itu tidak memiliki risiko yang berarti.

“Namun, yang patut kita cermati itu kestabilan kubah tengah dan lava yang pernah muncul di tahun 1888 yang menahannya,” ungkapnya lebih lanjut.

Apabila kubah masih bergerak terus, urai Subandrio, maka pada titik tertentu, kubah itu akan kolaps. Dengan begitu, alur di Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu akan menjadi lebih rentan.

“Kapan kubah akan betul-betul kolaps? Secara deterministik, tidak bisa dikalkulasi, ya. Namun, secara teori, bila slope stability struktur puncak di lereng barat memiliki nilai factor of safety lebih kecil dari angka 1, maka itu akan kolaps,” bebernya.

Dia menjelaskan, hal terburuk akan terjadi apabila masyarakat di alur Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu tidak tanggap bila itu terjadi. (maw/rif/ard)

Baca Tribun Jogja edisis Selasa 14 Desember 2021 halaman 01

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved