Breaking News:

Sebanyak 700 Anak Berkebutuhan Khusus di Kabupaten Magelang Belum Terfasilitasi Pendidikan

Kepala Sekolah Luar Biasa Ma'Arif Muntilan, Sugiranto mengatakan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan bersama tim forum anak disabilitas

TRIBUNJOGJA.COM/ Nanda Sagita Ginting
Suasana sosialisasi Peringatan Hari Disabilitas, di Ngadiharjo, Magelang, Sabtu (11/12/2021) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Akses pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kabupaten Magelang belum merata.

Kepala Sekolah Luar Biasa Ma'Arif Muntilan, Sugiranto mengatakan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan bersama tim forum anak disabilitas Kabupaten Magelang, dari 1.000 ABK baru 300 anak yang mendapatkan pendidikan di sekolahan.

Sedangkan, sisanya 700 anak belum tersentuh pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan.

Baca juga: Sasar Generasi Muda di Kulon Progo, BKKBN Sosialisasikan Program Bangga Kencana

"Di Kabupaten Magelang baru ada tiga SLB, yakni SLB Ma'Arif Muntilan, SLB Rindang Kasih di Secang, dan SLB Bina Kasih di Srumbung. Setiap sekolah hanya menampung rata-rata 50 murid sedangkan total ABK bisa di atas 1.000 anak. Tentu ini tidak seimbang. Alhasil, masih banyak sekali (ABK) yang belum tertampung untuk mendapatkan fasilitas pendidikan," ucapnya pada Tribun Jogja, Sabtu (11/12/2021) usai kegiatan Peringatan Hari Disabilitas, di Ngadiharjo, Magelang.

Ia menambahkan, minimnya fasilitas menjadi kendala tersendiri bagi ABK untuk mengakses pendidikan layaknya anak normal lainnya.

Bukan hanya sekolah, tempat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan ABK juga masih terbatas.

Padahal, lanjutnya, kesadaran para orangtua untuk menyekolahkan anaknya sudah sangat baik.

Orangtua sudah paham bahwa anak berkebutuhan khusus juga perlu mendapatkan ilmu dari ranah pendidikan.

"Kalau, dari sisi orangtua ataupun keluarga sekarang sudah lebih terbuka untuk menyekolahkan anaknya. Hanya saja, memang kendala fasilitas. Untuk ini, (fasilitas bagi ABK) memang perlu dorongan dan perhatian oleh pemerintah, harus konsisten. Sekarang ini, kami mengupayakan agar pemerintah mendirikan SLB Negeri. Karena,  di Jawa Tengah hanya 4 Kabupaten yang belum memilikinya, satu di antaranya Kabupaten Magelang. Jika ada kan, bisa mengatasi masalah pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini," terangnya.

Baca juga: Ketua DPRD Kota Yogyakarta Sebut Solusi Kemacetan adalah dengan Memindah Titik Keramaian

Sementara itu, menurut, Miftahul Huda, Tim pendidikan inklusi LP Ma'Arif PWNU Jateng, untuk mengentaskan kesenjangan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus selain SLB, dapat dilakukan dengan mendirikan sekolah inklusi

Sekolah inklusi merupakan tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya.

Namun, anak berkebutuhan khusus tetap didampingi oleh guru pendamping selama kegiatan belajar mengajar.

"Dengan adanya, sekolah inklusi akan mengajarkan setiap anak bernilai sama, diperlakukan dengan respek, dan memberi ruang untuk belajar yang setara. Karena, anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak lainnya. Bahkan, beberapa ABK dapat menjuarai perlombaan tingkat di tingkat provinsi," urainya. (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved