Breaking News:

Kalangan PKL Malioboro Bantah Klaim Pemkot Yogyakarta Soal Mayoritas Komunitas Setuju Direlokasi 

Kalangan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, membantah mengenai kabar sebagian besar komunitas, atau paguyuban

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kalangan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, membantah mengenai kabar sebagian besar komunitas, atau paguyuban yang sudah menemui kata sepakat untuk direlokasi ke tempat lain. 

Ketua Komunitas Angkringan Maloboro, Yati Dimanto pun menegaskan, bahwa klaim tersebut tidaklah benar.

Pasalnya, sampai sejauh ini, yang terjadi di lapangan juatru sebaliknya, dimana mayoritas paguyuban menolak wacana relokasi. 

Baca juga: PPKM Level 3 Akan Diterapkan Saat Nataru, Pemkab Bantul: Belum Ada Lonjakan Wisatawan

"Tidak benar ada informasi beberapa paguyuban secara resmi, dan bulat menyatakan menerima relokasi. Padahal, sebagian besar malah menyatakan keberatan," ungkapnya, Rabu (1/12/21). 

"Kemudian, ada pula paguyuban yang belum mengambil keputusan, karena masih dalam proses menjaring aspirasi dari anggota-anggota komunitasnya," tambah Yati. 

Sikap keberatan tersebut, katanya, karena menimbang dampak buruk sosial, dan ekonomi, yang sangat mungkin terjadi pada ribuan keluarga PKL.

Belum lagi, kebijakan relokasi diputuskan secara sepihak oleh pemerintah, tanpa melibatkan paguyuban pedagang.

"Pada dasarnya, PKL di kawasan Malioboro keberatan, dengan rencana relokasi yang akan dilakukan pemerintah. PKL lebih memilih untuk ditata, tanpa dipindah. Dibuat indah, tanpa memindah," cetusnya. 

Walau begitu, ia meyakini, pemerintah akan membuka lebar-lebar pintu dialog, dan mendengarkan aspirasi dari PKL.

Apalagi, selaras dengan statement yang dikeluarkan Pemkot Yogykarta, eksekutif belum menentukan tenggat waktu pelaksaan penataan, dan fokus pada upaya sosialisasi. 

Baca juga: Tahun 2022 mendatang, Pemkot Magelang Canangkan Kampung Religi di 17 Kelurahan

"Lagi pula, saat ini, kami baru bangun dari mati suri, dan tidur panjang. Baru mulai berjalan, kebijakan relokasi sudah di hadapan. Bagaimana kami tidak sedih, pedih, dan miris, ya," katanya. 

Dijelaskannya, pada Sabtu (27/11/2021) lalu, pihaknya pun sudah memfasilitasi sebuah forum, atau rembug lintas komunitas di kawasan Malioboro.

Dalam agenda itu, semua pihak bersinergi untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam memperjuangkan nasib. 

"Kita merembugkan langkah-langkah konkrit bersama dalam memperjuangkan nasib kami. Langkah-langkah yang terukur sesuai dengan budaya Yogyakarta, yang santun, dan damai tentunya," pungkasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved