Breaking News:

Tolak Relokasi, Wakil Ketua Paguyuban Handayani : PKL Adalah Aset Malioboro

Para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Malioboro merasa syok atas kabar adanya relokasi ke tempat baru.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL
Sebuah warung pecel lele di Jalan Malioboro mulai buka saat siang hari, Senin (29/11/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Malioboro merasa syok atas kabar adanya relokasi ke tempat baru.

Mereka menganggap PKL merupakan salah satu aset kawasan Malioboro, sehingga sebagian besar menolak untuk dipindah.

Wakil Ketua Paguyuban Handayani Sukino mengatakan, untuk sementara ini mereka masih syok atas munculnya program pemerintah yang ingin merelokasi para pedagang.

"Untuk sementara kami memang syok dengan informasi itu, karena memang kabarnya mendadak. Dan pada dasarnya kami keberatan adanya relokasi itu," katanya, dihubungi Senin (29/11/2021).

Pria berusia 50 tahun itu menuturkan, undangan sosialisasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta yang diterima hanya melalui sambungan telefon.

"Saya diundang hanya lewat telfon. Menginfokan adanya sosialisasi, kalau gak salah Kamis kemarin," terang dia.

Dalam sosialisasi itu, lanjut Sukino, nantinya seluruh PKL di Jalan Malioboro akan dipindah di bangunan bekas bioskop Indra yang letaknya masih di kawasan Jalan Malioboro.

Baca juga: Khawatir Tidak Laku, PKL Kuliner Malioboro Keberatan Direlokasi ke Eks Bioskop Indra

Baca juga: Legislatif Dukung Relokasi PKL Malioboro, Selama Tidak Mematikan Aktivitas Ekonomi 

Baca juga: PKL Malioboro Kaget, Mendadak Disosialisasikan Rencana Relokasi per Januari 2022 

Sayangnya, sebagian pedagang tidak menyetujui rencana itu, termasuk 60 pedagang kuliner dari Paguyuban Handayani.

"Di kami itu ada 60 pedagang, ya mau dipindah ke sana semua. Kami sudah berdikusi dengan teman-teman dan kami keberatan," ungkapnya.

Disampaikan Sukino, ada beberapa alasan mengapa para pedagang memilih bertahan di kawasan Malioboro.

Alasan pertama, saat ini kondisi ekonomi sedang sulit. Sehingga adanya pemindahan pedagang ke tempat baru hanya akan menambah beban para PKL.

Alasan selanjutnya, menurut Sukino PKL merupakan salah satu aset Malioboro, sebab para PKL selama ini yang meramaikan Jalan Malioboro.

"Faktanya begitu. Coba saja lihat ketika Selasa Wage, kan sepi. Jika PKL dipindah apa bedanya Jalan Malioboro dengan jalan lainnya. PKL ini salah satu aset di Malioboro," terang dia.

Sukino menegaskan, sebaiknya pemerintah memberdayakan para PKL di Malioboro daripada membuat program relokasi para pedagang.

"Karena biar begini kami tidak menjadi beban pemerintah, kami bisa berjualan mie ayam, soto atau lainnya. Sebaiknya pemerintah berdayakan para pedagang, bukan seprti ini," pungkasnya. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved