Update Covid 19

Dampak Varian Omicron Terhadap Efikasi Vaksin Sedang Dipelajari Peneliti, Ini Kata Satgas Covid-19

Sampai saat ini efek resistensi varian Omicron terhadap vaksinasi masih belum diketahui. Penelitian pun dilakukan lebih lanjut oleh para peneliti.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
pixabay
ILustrasi vaksinasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Menyusul munculnya varian baru Covid-19, Omicron, di Afrika Selatan, para peneliti kini mempelajari dampak dari varian baru tersebut terhadap efikasi vaksin.

Sampai saat ini efek resistensi varian Omicron terhadap vaksinasi masih belum diketahui. Penelitian pun dilakukan lebih lanjut oleh para peneliti.

Ilustrasi penularan covid-19
Ilustrasi penularan covid-19 (Tumisu from Pixabay)

Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah, saat ini peneliti masih mempelajari dampak varian baru Covid-19, Omicron terhadap efikasi vaksin.

Hal tersebut menyusul varian Omicron sudah masuk kategori variant of concern (VoC) yang berpotensi meningkatkan angka penularan, perubahan gejala atau menurunkan efektivitas usaha kesehatan, baik itu vaksinasi maupun alat diagnostik.

"Untuk Omicron, karena memang masih baru, peneliti mencoba mempelajari lebih lanjut dampak dari varian baru ini terhadap efikasi vaksin," ujar Dewi dalam talkshow Satgas Covid-19, Senin (29/11/2021), dikutip Tribun Jogja dari laman kompas.com.

Dewi mengatakan, efek resistensi varian Omicron terhadap vaksinasi masih belum diketahui. Hal tersebut karena varian Omicron benar-benar masih baru sehingga perkembangannya masih diteliti.

Meskipun demikian, kata dia, varian Omicron memiliki efek yang signifikan terhadap penurunan kemampuan antibodi dalam menetralisasi.

Oleh karena itu, untuk mencegah varian Omicron tersebut dengan melakukan booster vaksin pun belum dapat diketahui efektivitasnya.

Apalagi, kebijakan pemberian booster vaksin Covid-19 di Indonesia masih diperuntukkan bagi kelompok tertentu seperti tenaga kesehatan.

"Booster, sejauh ini sampai dengan (varian) Delta masih belum ada efek serius, dalam artian, efektivitas vaksin masih bisa berjalan," ujar dia.

"Apakah booster boleh atau tidak, saat ini kan kebijakan booster masih bagi mereka yang berisiko tinggi. PR untuk memenuhi dua dosis saja masih banyak, itu harus dikejar dulu," ujar Dewi.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, varian Omicron baru dilaporkan ke WHO pada 24 November, sedangkan spesimennya diambil 9 November.

Sebab ada jeda waktu, ujar dia, maka kemungkinan besar sudah terjadi transmisi di komunitas terutama di Afrika Selatan hingga menyebar ke negara-negara lainnya.

"Varian Omicron dalam waktu singkat tiba-tiba naik mendominasi varian-varian lain, itu kenapa dia menjadi concern (VoC)," kata dia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved