Breaking News:

Ibu Hamil Kini Bisa USG di Puskesmas

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) kini bisa dijangkau di puskesmas. Kemudahan ini diharapkan dapat menekan angka kematian ibu.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Ilustrasi USG Kehamilan 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Pemeriksaan ultrasonografi (USG) kini bisa dijangkau di puskesmas. Kemudahan ini diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan meningkatkan kualitas bayi yang dilahirkan. Nantinya, biaya pemeriksaan tersebut akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

"Ini merupakan salah satu bagi bagian dari pemberian layanan primer di puskesmas sehingga masyarakat menjadi lebih mudah untuk mengakses penggunaan USG," ujar Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono dalam peringatan Hari Ibu yang digelar virtual, Kamis (25/11/2021).

Kemarin, Kementerian Kesehatan membagikan 447 alat USG ke puskesmas, serta di tahun depan akan dilanjutkan pembagian sekitar 4.180 alat USG ke seluruh puskesmas di Indonesia. "Jadi Puskesmas sudah bukan lagi pelayanan untuk yang generik lagi tapi kita ingin advance," imbuhnya.

Dante mengatakan, ratusan dokter puskesmas telah dilatih untuk menggunakan alat ultrasonografi. Sehingga dokter puskesmas bisa menggunakan alat ultrasonografi ini secara maksimal. “Alat yang gampang kita gunakan yang portable sehingga bisa menjangkau daerah remote area," jelas Dante.

Identifikasi dan pemeriksaan pada saat hamil harus diperkuat. Pemeriksaan kehamilan yang sebelumnya dilakukan 4 kali, kini dinaikkan 6 kali. Dua di antaranya harus dengan pemeriksaan dokter.

Melalui pemeriksaan USG ini, rujukan ke rumah sakit bisa dilakukan lebih awal. Sebagai contoh apabila terdapat plasenta letak rendah atau solusio plasenta ini akan membawa implikasi persalinan dengan perdarahan yang lebih besar dan ini hanya bisa diatasi dengan menggunakan alat ultrasonografi.

Kemudian, mendeteksi ukuran bayi yang besar melebihi ukuran bayi pada umumnya untuk persalinan normal atau pervaginam. "Sehingga apabila melakukan persalinan nanti maka persalinannya bisa sudah direncanakan ke rumah sakit. Sehingga angka kematian di rumah sakit bisa ditekan kematian ibu bisa ditekan," ungkap Dante.

Serta mendeteksi adanya kelainan pada janin selama kehamilan, seperti stunting. Kemudian yang kedua adalah pertumbuhan janin. Sampai saat ini, sekitar 28 persen dari seluruh anak-anak di Indonesia mengalami stunting, dan ini harus diturunkan menjadi 14 persen pada tahun 2024.

"Proses terjadinya stunting itu tidak dimulai saja pada saat anak sudah lahir tetapi bisa diidentifikasi pada saat kehamilan. Angka pertumbuhan janin terhambat itu bisa dideteksi dengan menggunakan alat ultrasonografi. Kita bisa melakukan identifikasi pertumbuhan janin yang di dalam kandungan. Bisa melakukan intervensi gizi kepada ibunya sehingga nantinya anak itu bisa berkembang di dalam proses kehamilan menjadi lebih baik," jelas Dante.

Telat dirujuk

Angka kematian ibu saat persalinan di Indonesia masih tinggi. Bahkan 74 persen terjadi di rumah sakit. Dante menyatakan, hal itu terjadi karena keterlambatan rujukan saat proses persalinan. "Artinya bahwa keterlambatan rujukan ke rumah sakit menyebabkan proses persalinan yang harusnya sudah lebih dini dirujuk ke rumah sakit menjadi terlambat," ujar Dante. (Tribun Network)

Baca Tribun Jogja edisi Jumat 26 November 2021 halaman 01

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved