Breaking News:

Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Tolak Penetapan UMK/UMP 2022, MPBI DIY : Upah Murah Masih Jadi Masalah Kronis di DI Yogyakarta

Kendati UMP DIY mengalami kenaikan sebesar 4,3 persen, namun jumlah tersebut dianggap masih tergolong rendah.

TRIBUNJOGJA.COM / Yuwantoro Winduajie
Aksi unjuk rasa menolak penetapan UMP/UMK 2022 di simpang empat Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Rabu (24/11/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY menggelar aksi unjuk rasa di simpang empat Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Rabu (24/11/2021).

Mereka menolak penetapan Upah Minimum Provinsi maupun Kabupaten/Kota (UMP/UMK) tahun 2022 yang telah diteken Gubernur DIY belum lama ini.

Dalam kesempatan tersebut, para pekerja juga menggelar aksi simbolik yakni dengan membawa boneka manekin yang digantung dengan tali rafia.

Boneka itu didandani sedemikian rupa menggunakan sepatu, setelan kemeja berwarna putih, celana panjang hitam, dan helm pengaman berwarna putih.

Baca juga: UMP dan UMK Tahun 2022 di DI Yogyakarta Ditetapkan, Perusahaan Dilarang Tangguhkan Upah Pekerja

Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY yang juga tergabung dalam MPBI DIY, Irsyad Ade Irawan menuturkan, boneka itu menyimbolkan kondisi buruh saat ini.

Kendati UMP DIY mengalami kenaikan sebesar 4,3 persen, menurutnya jumlah tersebut masih tergolong rendah.

Sebab, upah DIY belum melampaui nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Hal ini membuat buruh mengalami defisit penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Hidupnya seperti digantung karena tidak bisa memenuhi KHL dan hidup layak," jelas Irsyad di sela-sela aksi.

Menurut penghitungannya, upah DIY harusnya melampaui Rp 3 juta.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved