Breaking News:

Feature

Dinkop UKM DIY Gelar Kompetisi Branding Kuliner Khas Tradisional

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) DIY menggelar kegiatan kompetisi branding produk kuliner khas terpinggirkan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM/ Ardhike Indah
BUKA KOMPETISI - Pembukaan kompetisi Kraton Milea yang diinisiasi Dinas Koperasi dan UKM DIY di The Rich Jogja Hotel, Selasa (23/11/2021). 

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) DIY menggelar kegiatan kompetisi branding produk kuliner khas terpinggirkan. Adapun tema yang diambil berjudul ‘Kreasi Kuliner Tradisional oleh Milenial Muda (Kraton Milea)’ dan diselenggarakan sejak tanggal 10 November-4 Desember 2021.

KEPALA Dinkop UKM DIY, Ir Srie Nurkyatsiwi MMA menjelaskan, dalam agenda ini, ada 12 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di DIY yang terpilih untuk mengikuti kompetisi. Ke-12 SMK tersebut adalah SMK terpilih dari 30 SMK yang telah terseleksi di tanggal 10-15 November 2021. Masing-masing SMK mengirimkan 5 siswa untuk berkompetisi yang dimulai tanggal 30 November 2021 mendatang.

Sebelum berkompetisi menciptakan kuliner tradisional dengan sajian unik, mereka akan melaksanakan program magang selama tiga hari, mulai dari 24-27 November 2021 di hotel terpilih.

“Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus sebagai media promosi produk kuliner yang dihasilkan oleh generasi muda, konteksnya adalah siswa SMK. Adanya magang di perhotelan nanti bisa menjadi skema pembelajaran yang efektif menumbuhkembangkan jiwa enterpreneurship,” paparnya di The Rich Jogja Hotel, Selasa (23/11).

Menurut Siwi, generasi muda saat ini turut memiliki tanggung jawab untuk tetap melestarikan kuliner tradisional yang dikhawatirkan punah.

Ia mencontohkan, di daerah Gunungkidul, ketersediaan singkong atau ketela melimpah dan bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk menjaga ketahanan pangan mereka.

Dengan begitu, masyarakat setempat tidak bergantung pada beras lantaran kondisi alamnya yang kurang memungkinkan untuk memproduksi beras dalam jumlah banyak.

Namun saat ini, ada kecenderungan masyarakat malu memakan singkong karena identik dengan kemiskinan.

Meski pada kenyataannya, memakan ketela tidak berhubungan dengan berapa banyak kekayaan seseorang. “Kondisi ini mendorong kita untuk melakukan branding produk lokal.

Maka, keberadaan produk-produk lokal ini tidak lagi terpinggirkan,” paparnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved