Breaking News:

Pandemi Covid 19

Peneliti Tawarkan Metode 'Vaksinasi Psikologis' untuk Perangi Hoax Soal Vaksin Covid-19

Kepercayaan yang lebih tinggi pada informasi yang salah tentang virus secara konsisten dikaitkan dengan berkurangnya keinginan untuk divaksinasi

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
Memyslefaneye from Pixabay
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Setidaknya hingga Senin (22/11/2021) ini, sudah 7,69 miliar dosis vaksin yang diberikan di seluruh dunia. Dari angka tersebut, 3,28 miliar di antaranya sudah mendapatkan dua dosis vaksin. Atau 42 persen populasi dunia sudah terlindungi oleh vaksin yang lengkap. Sementara itu di Indonesia, jumlah dosis vaksin yang sudah diberikan mencapai angka 223 juta dosis. Dari jumlah itu, 88,8 juta di antaranya sudah mendaptkan vaksin tahap pertama dan kedua atau 32,5 persen dari seluruh populasi.

Sejak kali pertama digulirkan, program vaksinasi memang tidak mudah untuk dilaksanakan. Tak hanya soal distribusi vaksin, namun juga ada resistensi dari warga yang enggan divaksin. Ini merupakan imbas dari menyebarkan informasi-informasi bohong alias hoax mengenai efek samping vaksin.

Informasi-informasi tersebut menyebar melalui media sosial atau pun melalui aplikasi perpesanan instan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyatakan keprihatinan tentang "infodemik" pada Februari 2020. Yakni membanjirnya informasi hoax.

WHO mengakui bahwa pandemi COVID-19 harus diperangi baik di lapangan maupun di media sosial.

Itu karena peluncuran vaksin yang efektif akan bergantung pada kepercayaan vaksin yang tinggi, dan kesalahan informasi virus dapat berdampak buruk pada kepercayaan itu, yang mengarah pada keraguan seseorang untuk divaksin.

Dalam sebuah penelitian Sander van der Linden, seorang psikolog sosial di Departemen Psikologi Universitas Cambridge mengungkapkan bahwa kepercayaan yang lebih tinggi pada informasi yang salah tentang virus secara konsisten dikaitkan dengan berkurangnya keinginan untuk divaksinasi. Temuan ini kemudian ditegaskan kembali dalam penelitian berikutnya yang menemukan hubungan yang signifikan antara kampanye disinformasi dan penurunan cakupan vaksinasi.

Penyebaran informasi palsu tentang COVID-19 menimbulkan risiko serius tidak hanya bagi keberhasilan kampanye vaksinasi tetapi juga kesehatan masyarakat secara umum.

Solusinya adalah dengan menginokulasi orang terhadap informasi palsu atau dengan 'vaksin psikologis'.

Ketika mencari cara untuk mengurangi informasi yang salah, para ilmuwan dihadapkan pada beberapa tantangan: pertama, rumor telah terbukti menyebar lebih cepat, lebih jauh dan lebih dalam di jejaring sosial daripada berita lainnya, sehingga sulit untuk koreksi (seperti pengecekan fakta) untuk secara konsisten mencapai jumlah orang yang sama dengan misinformasi asli.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved