Breaking News:

Tribun Musik

Shoppinglist Luncurkan Album 'Musim Belanja'

MENGADOPSI kehidupan dan konflik ruang-ruang tersembunyi di keluarga untuk membicarakan narasi yang lebih besar.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Agus Wahyu
ISTIMEWA
Shoppinglist Band 

MENGADOPSI kehidupan dan konflik ruang-ruang tersembunyi di keluarga untuk membicarakan narasi yang lebih besar, band rock realis 'Shoppinglist' belum lama ini merilis album bertajuk 'Musim Belanja' plus single 'Orang-Orang Kota' dan 'Lagu Ibu Tani'.

Band asal Yogyakarta digawangi oleh Adam Nauhil (bass, vokal, akustik), Dwi Rahmanto (vokal), dan Ipin Nur Setyo (guitar, vokal) percaya, semua narasi kecil di keluarga mencerminkan narasi besar di ranah kehidupan sosial "Shoppinglist adalah suara yang dikuasakan kepada kami, keluarga, pasar, mobilitas kota dan ruang introspeksi, memanfaatkan suara dan lirik untuk membicarakan realita sehari-hari," ujar Dwi Rahmanto.

Sedikit flashback, pada tahun 2017 Shoppinglist terlibat dalam album kompilasi “2500 Kalori” milik Yayasan Kampung Halaman bersama musisi-musisi lain. Di tahun 2019 sampai kini mereka banyak mengisi panggung solidaritas seperti Art For Orangutan, Musik Untuk RUU Permusikan Yogyakarta dan Harlah PPLP dan banyak lagi.

Setelah sang drummer, Malve, meninggal dunia, Adam, Dwi dan Ipin sangat terpukul. Keterpukulan ini membuat mereka meredam sesaat semua ambisi besarnya meneruskan album baru sampai hanya 5 lagu terkumpul.

"Tetapi kami memastikan bahwa semangat Mavle harus terus di teruskan, dan kami sepakat mempublish album pertama kami secara online streaming. Tentunya ini langkah terbaik menuju album baru, album ini adalah album yang secara kelaguan sangat terinspirasi oleh provokasi-provokasi perihal shopaholic di kalangan masyarakat saat ini, ternyata ada banyak aspek baik dan buruk yang mengikutinya, dan ini perlu dibagi sebagai pengingat kami secara personal dan semoga ke kalangan yang lebih luas," jelas Dwi.

Pada lagu 'Musim Belanja' yang liriknya diciptakan oleh Dwi, Shoppinglist turut menggandeng Bangkid Suharja (gitar), Damar Puspito (bass), serta Prihatmoko Moki (drum). Lagu ini adalah lagu yang menginspirasi nama band 'Shoppinglist', merupakan pertanyaan ulang atas kegemaran kita secara personal soal berbelanja.

Lagu ini menggunakan beat cepat poppunk dengan maksud memperlihatkan percepatan dan sirkulasi dari transaksi jual beli, percepatan kota bersama pertumbuhannya. "Belanja kalau dalam arti negatif merupakan hal yang banyak terjadi dalam kehidupan kita, membabi buta tanpa memperhitungkan baik buruk dan ketersediaan material yang kita miliki, nilai konsumtifnya lebih besar dari pada manfaatnya," kata Dwi.

Nilai konsumtif ini ditunjang dengan adanya pertumbuhan kota yang tidak seimbang, bangunan berbelanja hadir di tiap gang tanpa memperhatikan nilai-nilai lokal dan kemanfaatan. Akhirnya ketimpangan dan ketidakadilan selalu hadir di sekeliling kita.

Tema pasar masih diangkat Shoppinglist dalam lagunya bertajuk 'Radio'. Dijelaskan, pasar tradisional dan suara-suara seperti radio adalah saudara tak terpisahkan, dari radio ini simbok-simbok ditemani oleh ribuan suara dan kenangan atas seni, budaya, desa, kota.

"Ada jam-jam tertentu mereka menemukan lagu, drama, dan sebagainya yang mewakili atas perasaan. Lagu ini adalah lagu rindu, lagu memuja ketenangan dan keriuhan pasar tradisional, musik bermacam aliran dan gossip gossip berjajar saling melengkapi," ujar Dwi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved