Breaking News:

Gaspol 52

Honda CT 200, Bebek Penjelajah Nan Penuh Sejarah

SEBAGAI mahasiswa Seni Rupa, Ainur Roffiq punya keinginan nyentrik lewat tunggangannya.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Agus Wahyu
ISTIMEWA
Honda CT 200 

SEBAGAI mahasiswa Seni Rupa, Ainur Roffiq punya keinginan nyentrik lewat tunggangannya. Namun siapa sangka, kini, pria 25 tahun itu malah memiliki sembilan koleksi motor lawas nan mahal besutan ATPM Sayap Mengepak alias Honda.

Koleksi Ainur tak main-main, dari Honda Pispot C90, tiga unit CT series yakni CT200, CT90, CT55, Honda Benly Arwin C92, 2 unit C90 1969, 1 unit S90 tahun 1968, Scrambler CL100, serta satu unit motor legendaris asal Inggris, Matchless.

Diceritakan pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini, ketertarikannya pada motor lawas memang baru bermula sejak di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa Seni Rupa, Ainur ingin tampil beda, tampil nyentrik dengan sepeda motornya sehingga bisa menjadi penanda.

"Sebenarnya pemicunya justru sekadar sebagai penanda saja sih, kalau anak Seni Rupa bawa motor biasa, kurang nyentrik saja menurut saya. Jadi agar lebih gampang sik niteni (menandai)," ujar Ainur kepada Tribun Jogja beberapa waktu lalu.

Lantaran sewaktu awal kuliah masih mengandalkan biaya dari orang tua, Ainur menyisihkan uang jajannya untuk membeli sebuah motor lawas yakni Honda C70 atau yang lebih dikenal Honda Pitung. Diakuinya, pada rentang 2013-2014 motor lawas memang belum dilirik, sehingga motor lawas pertama tersebut ia dapatkan dengan harga yang relatif murah, yakni hanya Rp 2,5 Juta.

Seiring berjalannya waktu, kegemarannya terhadap motor lawas makin menggila. Diakui Ainur, hal tersebut tak lepas dari lingkup pergaulannya.

"Pemicunya sih justru lebih kepada pergaulan, saya tipikalnya memang lebih suka bergaul dengan orang-orang yang lebih tua, kalau dengan teman yang sebaya, mungkin motor-motor yang saya miliki sudah jadi herex (Honda Excite Rider Extreme)," ujar pemilik akun Instagram @_singgahsekejap_.

Benar saja, motor lawas pertamanya lantas ia jual, untuk membeli koleksi motor yang lebih lawas, serta kondisinya lebih oke. Untuk memenuhi tuntutan hobinya, Ainur mengumpulkan uang dari keterampilan mensketsa wajah.

"Tapi dulu memang jual-beli motor lawas ini pure untuk memenuhi keinginan hatiku, sama sekali tidak berpikir soal keuntungan, sebab yang terpenting bisa mendapatkan koleksi motor yang lebih tua," ungkapnya.

Baru sekira 2018, Ainur menyadari bahwa di balik hobinya mengoleksi motor lawas, dapat mendatangkan pundi-pundi keuntungan yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan membiayai kuliahnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved