9 Wali Songo dan Strategi Dakwah Mereka
Wali Songo adalah sebutan untuk para wali yang berjumlah sembilan. Siapa saja Wali Songo dan bagaimana startegi mereka berdakwah?
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM – Wali Songo adalah sebutan untuk para wali yang berjumlah sembilan.
Wali Songo merupakan tokoh sentral penyebar agama Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.
Wali Songo menyebarkan dan mengenalkan ajaran Islam yang mudah diterima oleh masyarakat.
Wali Songo menempati posisi penting dalam masyarakat muslim di Jawa, khususnya di daerah tempat mereka dimakamkan.
Siapa saja Wali Songo dan bagaimana strategi mereka berdakwah?
Simak penjelasan berikut:
1. Sunan Gresik
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam di wilayah Gresik, Jawa Timur.
Dalam cerita rakyat, terkadang Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai Syeikh Maghribi.
Sebagian rakyat ada yang menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Muhammad Ainul Yakin).
Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarqand.
Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syaidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.
Sunan Gresik dianggap sebagai orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Jawa.
Sunan Gresik berdakwah dengan berbaur terhadap masyarakat.
Ia mengajarkan cara bercocok tanam untuk mengambil hati masyarakat dan mendirikan masjid serta pesantren sebagai tempat berdakwahnya.
2. Sunan Ampel
Setelah Sunan Gresik wafat, Sunan Ampel atau Raden Rahmat dianggap sebagai sesepuh Wali Songo.
Jejak dakwah Sunan Ampel tidak hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, melainkan meluas sampai ke daerah Sukadana di Kalimantan.
Sunan Ampel memiliki pesantren Ampeldenta yang teletak di Denta, Surabaya.
Sunan Ampel berdakwah dengan cara menjalin hubungan kekerabatan (jalur pernikahan).
Ia menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah.
Sunan Ampel sendiri menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban, yang juga cucu Arya Lembu Sura Raja Surabaya yang muslim.
3. Sunan Bonang
Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum adalah putra dari Sunan Ampel.
Wilayah dakwah dari Sunan Bonang adalah daerah Kediri.
Dengan membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri, Sunan Bonang mengembangkan dakwah Islam di pedalaman yang masyarakatnya masih menganut ajaran Tantrayana.
Setelah meninggalkan Kediri, Sunan Bonang berdakwah di Lasem. Sunan Bonang dikenal mengajarkan Islam melalui wayang, tasawuf, tembang, dan sastra sufistik.
Karya sastra sufstik yang digubah Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil.
4. Sunan Drajat
Sunan Drajat atau Raden Qasim atau Syariffuddin adalah putra bungsu dari Sunan Ampel.
Wilayah dakwahnya berada di Paciran, Lamongan. Ia mengembangkan dakwah Islam melalui pendidikan akhlak bagi masyarakat.
Adik dari Sunan Bonang ini mendidik masyarakat sekitar untuk memperhatikan nasib kaum fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki rasa empati, etos kerja keras, kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong royong.
Sunan Drajat juga mengajarkan kepada masyarakat teknik-teknik membuat rumah dan membuat tandu.
5. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga atau Raden Umar Said adalah putra Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban.
Sunan Kalijaga mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya.
Ia pandai mendalang dan mahir menciptakan bentuk-bentuk wayang serta lakon-lakon carangan.
Melalui pertunjukkan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf pada masyarakat.
6. Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga.
Sama seperti ayahnya, Sunan Muria berdakwah melalui jalur budaya.
Dalam menyebarkan Islam, Sunan Muria melestarikan seni gamelan dan boneka sebagai sarana dakwah.
7. Sunan Kudus
Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq berdakwah di wilayah Kudus, Jawa Tengah.
Strategi dakwah yang digunakan oleh Sunan Kudus untuk menyebarkan Islam adalah dengan mendekati masyarakat melalui kebutuhan mereka.
Ia mengajarkan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, membuat keris pusaka, dan lain sebagainya.
8. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra dari Sultan Hud.
Strategi dakwah yang dijalankan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedudukan politis sekaligus memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten, dan Demak melalui pernikahan.
9. Sunan Giri
Sunan Giri atau Muhammad Ainul Yakin adalah putra dari Syaikh Maulana Ishak.
Sunan Giri dikenal sebagai raja sekaligus guru suci (pandhita ratu).
Sunan Giri berperan penting dalam pengembangan dakwah di Nusantara yang dikenal dengan strategi dakwah dengan memanfaatkan kekuasaan, perniagaan, dan pendidikan.
Jejak dakwah Sunan Giri beserta keturunannya mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, dan Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, bahkan Kepulauan Maluku.
Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam melalui seni pertunjukkan.
Ia tidak hanya dikenal sebagai pencipta tembang-tembang dolanan anak-anak, tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung, melainkan juga telah melakukan perubahan reformatif atas seni pertunjukan wayang.
(MG – Endry Nur Latiefah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wali-songo.jpg)