Breaking News:

Usaha Mebel dan Kerajinan di DI Yogyakarta Meningkat Meski Terkendala Biaya Ekspor yang Mahal

Bisnis mebel dan kerajinan di DI Yogyakarta tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19. Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Timboel Kramik sendiri biasanya bisa mengirim 4-5 kontainer dalam sebulan, kini bisa meningkat di angka 8-10 kontainer per bulan.

Pihaknya bahkan harus menambah pekerja untuk memenuhi target permintaan, terutama saat ini yang mendekati Natal dan Tahun Baru.

Namun demikian, yang ia keluhkan saat terjadi kenaikan biaya kirim. Ia menyebut, harga kirim saat ini naik berkali lipat, bahkan biaya kontainer bisa lebih tinggi dari harga barang. 

Pihaknya sudah mencoba mengirimkan surat kepada Pemerintah Pusat agar diteruskan ke Bea Cukai untuk mengatasi persoalan harga kirim via kontainer.

Ia berharap pemerintah dapat menurunkan harga kirim atau memberikan subsidi. Namun diakuinya, sampai saat ini belum ada tindakan dari pemerintah.

Kondisi yang sama dialami Palm Craft Jogja, salah satu pengusaha home decor yang berlokasi di Jalan Mrisi, Kasongan, Bantul.

Baca juga: PT KAI Bagikan Voucher Perjalanan Gratis untuk Nakes, Guru, dan Veteran Mulai 8-30 November 2021

Pemilik Palm Cratf Jogja, Deddy Effendy Anakotapary mengatakan bahwa usahanya lebih banyak melakukan ekspor.

Sejak akhir 2020 hingga saat ini, pihaknya tetap melakukan pengiriman barang ke berbagai negara di Eropa seperti Belgia, Inggris, dan Prancis. 

Biasanya Palm Craf mengirim 2-3 kontaniner dalam sebulan, saat ini bisa 5-6 kontainer dalam sebulan. Dengan kondisi ini pihaknya pun menambah karyawan agar bisa memenuhi target pesanan. 

Namun demikian, ia juga mengaku bahwa biaya kontainer mengalami peningkatan sampai delapan kali lipat. Menurutnya hal itu disebabkan karena impor dari luar negeri ke Indonesia tidak banyak sehingga kapal yang masuk ke Indonesia terbatas dan menyebabkan harga kirim untuk ekspor meningkat.

"Akhirnya slot kapal terbatas akhirnya biaya ongkos kapal mungkin ada kenaikan. Jadi permintaan sudah banyak tapi biaya kirim mahal," ujarnya. 

Dengan mahalnya ongkos kirim, ia berharap pemerintah bisa mensubsidi biaya kirim barang ke luar negeri. (nto)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved