8 Hikmah Murah Hati, Dermawan Serta Membelanjakan Harta di Jalan Allah SWT

Kebaikan adalah suatu upaya pendekatan diri kepada Allah dengan senantiasa mencoba untuk mencapai tujuan sebenarnya dalam hidup

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
tribunnewswiki.com
ilustrasi bersedekah 

Lil-fuqarā`illażīna uḥṣirụ fī sabīlillāhi lā yastaṭī'ụna ḍarban fil-arḍi yaḥsabuhumul-jāhilu agniyā`a minat-ta'affuf, ta'rifuhum bisīmāhum, lā yas`alụnan-nāsa il-ḥāfā, wa mā tunfiqụ min khairin fa innallāha bihī 'alīm 

Artinya: (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.  (Al-Baqarah: 273)

Dari Ibnu Mas'ud r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Tiada kehasutan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, iaitu: seseorang yang dikurnia oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan guna menafkahkannya itu untuk apa yang menjadi hak  kebenaran dan seseorang yang dikurniai oleh Allah akan ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu antara dua orang atau dua golongan yang berselisih - serta mengajarkannya pula." (Muttafaq 'alaih)

Dapat diartikan bahawa seseorang itu tidak patut dihasuti atau diri kecuali dalam salah satu kedua perkara di atas .

Dari Ibnu Mas'ud r.a. pula katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Siapakah diantara kalian semua yang harta orang yang mewarisinya itu dianggap lebih disukai daripada hartanya sendiri?" Para sahabat menjawab: "Ya Rasulullah, tiada seorang pun dari kita ini, melainkan hartanya adalah lebih dicintai olehnya." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hartanya sendiri ialah apa yang telah terdahulu digunakannya, sedang harta orang yang mewarisinya adalah apa-apa yang ditinggalkan olehnya - setelah matinya." (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Maksuddari kata terdahulu digunakannya, contohnya barang yang dipakai untuk makan minumnya, pakaiannya, perumahannya atau yang diberikan untuk sedekah atau lainya yang berupa pertolongan kesosialan. Selebihnya tentulah akan ditinggalkan, jika telah meninggal dunia.

Oleh sebab itu Hadis di atas secara tidak langsung memberikan sindiran kepada kita kaum Muslimin agar gemar harta yang ada di tangan kita yang sebenarnya hanya titipan dari Allah swt.

Maksud dari hadist di atas yang lainya supaya kita nafkahkan untuk jalan kebaikan, semasih kita hidup di dunia ini. Dengan demikian kemanfaatannya akan dapat kita rasakan setelah kita ada di akhirat nanti.

Dari 'Adi bin Hatim r.a. bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: "Takutlah engkau semua dari siksa api neraka, sekalipun dengan menyedekahkan potongan kurma." (Muttafaq 'alaih)  Dari Jabir ra., katanya: "Tiada pernah sama sekali Rasulullah s.a.w. itu dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata: "Jangan." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada sehari pun yang sekalian hamba berpagi-pagi pada hari itu, melainkan ada dua malaikat yang turun. Seorang di antara keduanya itu berkata: "Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan itu akan gantinya," sedang yang lainnya berkata: "Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan - tidak suka menafkahkan hartanya - itu kerosakan - yakni hartanya menjadi habis." (Muttafaq 'alaih)

Ilustrasi : Salat Istikharah dilakukan untuk meminta petunjuk ketentuan pilihan yang lebih baik dari dua hal belum diketahui baik dan buruknya.
Ilustrasi : Salat Istikharah dilakukan untuk meminta petunjuk ketentuan pilihan yang lebih baik dari dua hal belum diketahui baik dan buruknya. (via 123rf.com)

Pelajaran yang dapat diambil :

1. Sarana pendekatan diri kepada Allah SWT.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved